Rabu, 16 Juni 2010

Stop Kekerasan Terhadap Anak-Anak

Akhir2 ini bayak terjadi kekerasan terhadap anak-2, foto di bawah ini adalah sindiran, coba cermati kata2 di bawah fotonya…
Jika di perbesar kata-katanya seperti ini : “ Andai Dia Anak Anda, Masih Nekat Menamparnya”

aku pikir tak akan pernah ada. kita akan lebih semena-mena sama mereka yang lemah secara fisik, mental, maupun otak.

STOP KEKERASAN TERHADAP ANAK-ANAK
 
lihatlah kepolosan mereka yang tidak mengerti tentang perang dan segala kepentingan politik
  Ingatlah mereka yang memberi warna di dunia...
 
  senyum mereka, tawa mereka, kepolosan mereka, semangat mereka.

Selasa, 15 Juni 2010

harga mati surga

membuka email kantor senin pagi minggu lalu,

Dear sahabat.

Saya merenungkan,

Salah satu "syarat" masuk surga adalah mati. Jika aku memang mau surga beneran, aku harus mati beneran. Aku sebenarnya anggota resmi "pasukan berani mati". Inilah jati diri. Maka, jika aku mau "surga-surgaan", aku harus mau mati-matian. Jika aku mau "setengah surga" maka aku harus mau setengah mati. The question is, how this is gonna be fun? Selamat menyongsong hari minggu yang baru.

Tetap semangaaaaaat !!!

best regard's

Y. f. R.


seorang sahabat me-replay "membaca ini membuatku merasa Hidup lebih indah bahkan maut pun terasa manis."

aku mengamininya. harusnya permainan hidup-mati ini menyenangkan bagi setiap jiwa.

Sabtu, 12 Juni 2010

setahun mengenangmu, Suki

hari ini tepat harimu, 12 Juni. hari dimana aku tak lagi bisa bersentuhan fisik denganmu. sudah satu tahun, tak terasa sahabat.

kamu sudah tenang disana tak lagi diributi sama urusan dunia yang semakin aneh dan lucu saja buatku. kamu tau akhir-akhir ini aku selalu merasa marah, berusaha untuk terus berpikir positif membuatku sangat lelah jika sudah seperti ini aku rindu malam-malam saat kita dan beberapa sahabat yang lain menghabiskan waktu bersama. rindu mencaci maki hidup, tertawa sampai suara serak dan menangis sampai tak ada lagi air mata dan akhirnya menyerahkannya pada yang punya hidup. rindu kamu.

tadi kerumah mu, bertemu ibu bapak, masih ada air mata saat bercerita tentangmu, meski sudah satu tahun lamanya sepertinya kamu tak pernah benar-benar pergi.

Jumat, 11 Juni 2010

dia dan aku, sama

dia berkata seolah dia benar,

dan

aku berkata seolah aku benar,

tapi benar kami berbeda dan saling melukai

Selasa, 08 Juni 2010

masa lalu

ketika masa lalu hanya mengganggumu dan kau tak mampu mengenyahkannya seperti inginmu,

lalu apa?

tangismu tak teracuhkan, marahmu terabaikan hingga kau lelah sendiri dengan segala emosi yang tak merubah apapun, memilih diam dan tak peduli tetap saja melukaimu

lalu apa?

jika kamu adalah dia

jika kita adalah masa lalu itu

pilihan hidupmu

tak mampu melihatmu lagi
pilihan hidupmu
meninggalkan sakit yang mengakar tepat pada ulu hati ku

Senin, 07 Juni 2010

cukup!!!!

logika mandek
hati ngambek

Bahwa hidup…

bahwa hidup haruslah ditempuh,
menolong, tertolong
bahwa ketertindasan selayaknya disudahi,
mendidik, terdidik
bahwa alam menggeliat naluriku,
air, mata, tanah, raga, kalbu
bahwa rona mereka merenggut jiwaku,
tawa, tangis, harap
bahwa hidup haruslah bermanfaat,
bagimu, bagiku

Catatan Butet Manurung

Belajar darinya…

Ada pahlawan disetiap kita, yang menjaga untuk tetap teguh, yakin dan kuat menjalaninya, walau terkadang harus merelakan apa yang kita inginkan (impian sekalipun…)

Catatan Yopimsari

Jumat, 04 Juni 2010

Skenario

terlalu banyak catatan dengan kata "WARNING"
dilingkari sebagai opsi lainnya jika tidak berhasil
--------
SKENARIO
--------


PAYAH

Kamis, 03 Juni 2010

Langit, Bumi dan Langkah

Seorang sahabat bertanya “Mengapa?” ketika tulisan Langitku berganti Bumi disebuah catatan.
“aku melihat bumi lebih menarik untuk di jelajah sekarang, lebih banyak warna dari pada warna langit”
“lelah dengan semua impian?” tanyanya
“bukan, aku tetap menggantungkan impianku pada langit, dia akan tetap menjadi petunjuk bumi mana yang harus kujelajah untuk menorehkan warna baru di buku catatanku yang usang”
“warna baru, benar, terlalu banyak kata dilangit dengan warna stabil seperti ingin mengamini semua kisah sebagai sesuatu yang telah tercatat sebelum lahir dalam dunia fisik dan waktu”
Kita diam lama sebelum kamu kembali bertanya
“lalu apa selanjutnya?”
Aku tersenyum, Kamu mampu meraba kata Bumi yang kutuliskan tidaklah kuat seperti akan diganti, hanya tinggal menunggu waktu saja.
“Langkah. Langit adalah Suar. Bumi adalah Cerita. Langkahlah yang membuat Suar dan Cerita itu Nyata di buku catatan usangku.”

Selasa, 01 Juni 2010

Sombong

Hotel, Kamis 20 Mei 2010

Kamu menunduk, setelah obrolan panjang kita. Suara lirihmu masih bisa kudengar jelas setiap katanya karena aksen batakmu yang lugas.
“sombong sekali aku”
Aku bisa memahaminya sahabat karena itu manusiawi.
“kata sombong bukan hanya berkaitan dengan penghargaan, kekayaan atau kepintaran yang kita punya. Masalahpun bisa menjadikan kita orang yang sombong. Terkadang kita merasa masalah kita yang paling berat, orang lain tak akan mampu memahaminya karena hidup mereka lebih baik daripada kita. Hingga ada ucapan sinis ‘tau apa kamu tentang hidup?’, saat mereka mencoba membantu kita dengan keras kita berkata ‘kamu gak akan ngerti!’. Dan semua itu diperparah saat kita melihat mereka menangis untuk sesuatu yang tidak penting menurut kita, ‘Cuma masalah seperti itu saja kamu nangis, kalo kamu ngerasaain apa yang aku alami mungkin kamu dah bunuh diri’
Kamu masih menunduk membuatku merasa sedang menghakimimu.
“aku gak mengguruimu, terkadang aku masih merasakan hal yang sama. Tapi setiap kali merasa tidak baik aku coba untuk melihat dari sudut yang berbeda”
Kamu menoleh kearahku, bisa kulihat jejak air dipipimu.
“gak, kamu benar. Harusnya aku melihat dari sudut yang berbeda”
Aku tersenyum bukan karena aku benar tapi karena kamu mencoba untuk memahami pendapatku. Aku kembali melanjutkan kata-kataku
“yang terlihat terkadang bukan yang sesungguhnya. Kamu mungkin melihat temanmu bersendagurau, tertawa terbahak-bahak seperi tak ada beban dalam hidup mereka tapi siapa yang tau apa yang mereka simpan dalam hati. Sama seperti aku melihat kamu kalo kamu gak cerita apa yang menjadi beban dihati kamu mungkin selamanya aku berpikir kamu baik-baik saja. Sebelum kamu tau kesusahan hati mereka gak pantas kamu bilang ‘mereka tak akan mengerti karena meraka lebih beruntung daripadaku’.”
Aku menunggumu bereaksi.
“seperti katamu fie, aku punya makanan sedangkan kamu punya minuman. Tapi aku tak membutuhkan makanan itu karena aku haus bukan lapar dan kamu tak membutuhkan minuman itu karena kamu lapar bukan haus. Pada dasarnya masalah kita sama hanya apa yang kita butuhkan berbeda, tak bisa aku bilang makanan lebih penting dari minuman atau sebaliknya karena itu sama pentingnya buatmu dan buatku”
“esensinya sama, hanya cerita yang membalutnya berbeda. Dan terkadang kita tidak melihat itu karena kesombongan kita”

Menghayati hidup

Kutipan Koran kompas

Pemikiran Martin Heidegger (1889-1976)

Ada dua cara menghayati hidup, secara otentik dan tidak otentik. Manusia hidup di dunia (umwelt) melalui tiga cara. Manusia tidak hanya hidup dengan sesama (being-with-others) tetapi juga berdampingan dengan benda (being-alongside-things) dan bereksistensi pada dirinya sendiri (selbstein). Ketidak otentikan penghayatan hidup terjadi saat pertama manusia hanyut dalam dunia benda-benda dan dikuasai sepenuhnya oleh alat-alat yang diciptakan oleh manusia sendiri. Selain itu juga bagaimana manusia membiarkan diri dikuasai oleh mass (dasman-hilang dalam massa).
Yang benar adalah individu memahami dirinya sendiri sebagai “Ada” bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bersama orang lain di dunia fisik. Ketidaksanggupan “Mengada bersama orang lain adalah bagian dari ketidaksanggupan untuk hidup”

Kamis, 27 Mei 2010

Retak, sebagian darinya adalah cermin dariku

catatan 2009

Aku menemukan lagi satu cermin dari retaknya pikiranku dari sebuah obrolan menjelang pagi tahun lalu.
“jadi apa yang membuatmu bahagia?” pertanyaan black membuat ku tertawa kecil saat itu tapi hanya sebentar saja lalu menghilang saat melihat wajah seriusnya.
“banyak hal, salah satunya ini, ngumpul bareng ma temen menghabiskan waktu, bercerita tentang bayak hal”
“bukankah ini sebuah pelarianmu?”
Aku terperangkap dalam pertanyaannya dan sepertinya ia sedang menyeret sebuah banyangan keluar dari persembunyiannya. Aku terdiam mencari kata yang tepat untuk ‘tidak ditemukan’, aneh tapi itulah yang kupikirkan.
“banyak hal salah satunya adalah itu”
Black diam tak bertanya lagi tapi aku tau arah matanya hingga membuatku menyerah “yah, rata-rata adalah pelarian, kesempatan untuk keluar dari intiku, melepaskan beban tanpa harus ada airmata atau amarah”
“mengkesampingkannya sejenak karena lelah dengan segala bentuk emosi, menghindari penyesalan dari konflik ketika emosi itu meluap” seperti biasa black menemukan kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya.
Dengan tersenyum black bercerita yang membuatku mengerti sebagian darinya adalah cermin dari aku.
“aku pernah berada pada titik tidak mencintai diriku sendiri. Ku habiskan waktu untuk membahagiakan orang-orang yang kucintai…” dia memberi jeda untukku bereaksi
“bukankah kita akan selalu seperti itu. Rasa bahagianya akan berkali lipat saat kita melihat orang yang kita cintai bahagia. Dan rasa sedihnya juga akan berkali-kali lipat saat kita melihat orang yang kita cintai bersedih hingga terkadang membuat kita meminta Tuhan untuk membiarkan kita menggantikan tempatnya, kita saja yang bersedih bukan orang yang kita cintai, karena kita tak akan pernah tahan melihatnya” ucapku
“yah dan ternyata itu pilihan buruk. Ketika sebuah perseteruan terjadi dengan orang–orang yang aku cintai, itu seperti sebuah investasi yang kuhitung, aku telah melakukan bayak hal untuk membuat mereka bahagia, tapi mengapa mereka sepertinya tak berusaha membuatku bahagia dengan mengerti aku. Sampai pada titik aku tak mampu memahami saat kutahu mereka juga menghitung investasi bahagia yang mereka tanamkan padaku”
Aku terdiam, mencoba memahami “mengapa terasa seperti ego yang dibalut kata cinta? Seharusnya kita ikhlas melakukan semuanya”
“sejauh apa ikhlasmu?”
Aku tak bisa menjawab,
“itulah mengapa aku mengatakannya sebagai pilihan buruk. Kita selalu merasa sudah melakukan banyak hal untuk orang-orang yang kita cintai begitu juga sebaliknya. Perasaan yang bersaling silang dimana di suatu titik akan bertabrakan dan kita pertanyakan”
“tapi tak sepenuhnya buruk, bukankah memang sudah seharusnya kita berusaha membahagiakan orang-orang yang kita cintai?”
“yang aku lakukan adalah mengindari masalah dengan mereka, mengalah agar tidak tercipta konflik, mengiyakan segalanya meski aku tidak menyetujuinya, menyimpannya dalam diam dan menerima apa saja yang mereka berikan untuk membuat mereka bahagia. Inilah titik dimana aku tidak mencintai diriku sendiri”
Aku terkejut dengan pemikirannya…
“aku ingin bahagia dan kebahagianku ini membuat orang-orang yang kucintai bahagia. Terasa adil, saling memahami dengan jujur terhadap perasaan masing-masing, perasaan yang saling bertautan bukan bersaling silang. Membiarkan konflik itu ada untuk saling menyesuaikan bukan saling mengalah, membangun jalan untuk mengerti dan dimengerti seutuhnya. Ini adalah usaha yang paling tepat untuk membahagiakan orang-orang yang kucintai”
Saat itu aku tak tau apakah aku harus membenarkan atau menyalahkan pemikirannya, tapi pertanyaan terakhirnya membuatku mengerti
“kamu tau mengapa aku merasa seperti itu?”
Lama aku berfikir lalu menjawabnya “perasaan hampa yang kaurasakan saat tertawa ditengah hangatnya kebersamaan orang-orang yang kau cintai”
Senyum black mengembang penuh arti malam itu.

Ingin ku lepas rantai agama ini…

Langit, ketika masalah itu berulang aku selalu merasa tak ada daya lagi untuk menghadapinya. Tak pernah ingin melarutkannya dengan waktu, ingin segera menyelesaikannya, tapi jika masalah itu bukan padaku dan aku hanya jadi orang kesekian yang terserat kedalamnya, orang kesekian yang terkena dampaknya. Apa yang harus kulakukan langit? Aku tak lagi menemukan ruang untuk kata atau laku sebagai jalan memberitahunya tentang apa yang telah ia lakukan. Masalah yang ia buat telah menyebabkan luka yang tak pernah mengering di hati ini, tetapi menjadi tidak peduli bukanlah pilihan, untuk itu terus kukuatkan diri ini hingga perasaan tak ada daya menghilang, kuhibur diri ini “sedikit lagi jangan menyerah disini, kesabaran akan menghasilkan sesuatu yang baik untukmu”
Tapi…
Langit, ketika masalah itu kini berulang sungguh aku sudah tak ada daya lagi untuk menghadapinya. Ingin sekali kulepas rantai agama ini, menghadapinya sebagai manusia yang berakal.

Selasa, 25 Mei 2010

Persahabatan

Aku baru sadar ternyata sahabat itu ada harganya dan bisa kamu beli memang bukan dalam bentuk rupiah. Tapi kamu telah membelinya dengan waktu kebersamaan, kamu telah membelinya dengan mendengarkan segala keluh kesah, kamu telah membelinya dengan senyum dan dukungan untuk kebahagian dan cita sahabatmu. Dan yang paling kusukai adalah kamu telah membeli persahabatan itu untukku.

Miss You.

Surabaya

Kubasuh wajahku berkali-kali mencoba menghilangkan hawa panas Surabaya berharap dingin yang tertinggal mampu menyingkirkan penat yang terasa bertambah pekat saat terbakar matahari. Surabaya masih tetap sama, masih tetap panas yang tak bisa di ukur thermometer, masih tetap ada pantung suro dan buoyo, masih ada Dolly-area bisnis prostitusi terbesar di Surabaya, masih ada gang sempit delta dimana para gay bercinta, masih tetap ada bambu runcing tempat nongkrong para waria, masih ada rujak cingur pengusir rasa lapar, es degan yang menyegarkan badan, masih ada sahabat tempatku berbagi, masih ada keluarga yang mencintai, dan masih ada… pemilik… hatiku.

Sabtu, 22 Mei 2010

Masih Terjaga

Masih terjaga hingga kini, ditemani ayam goreng, kentang dan es kopi dengan beberapa teman di lt.9. Berbagi kisah, bercanda dan meluapkan kekesalan saat jarak bulan dulu tercipta diantara kami. ditemani suara bising dari jalanan yang membuatku sadar tak ada denyut mati untuk kota ini.

Kamis, 20 Mei 2010

Eja

ada jeda
nafasku mengeja
satu dua huruf yang berakhir pada rasa sakit

Rasa

apa yang kau namakan rasa?
Secangkir kopi,
Dan 4 sendok gula???