Tampilkan postingan dengan label aku pikiran hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku pikiran hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Rasa Terbagi

Aku menyadari dalam satu titik rasa itu bisa terbagi, satu mungkin lebih besar dari yang lainnya tapi tidak meniadakannya.

Dan

Aku menyadari hati dalam satu titik akan sangat kelelahan dengan semua rasa yang terbagi itu.

Lalu

Rasa terbagi, bukan hanya asam atau manis, pahit atau kecut tapi rasa terbagi kepadamu. Padamu yang bersedia mendengarkan dan berjanji akan selalu mendengarkan. Padamu yang memberikan tempat khusus dihatimu untuk segala rasa yang ku bagi. Padamu yang bersedia menyingkirkan lelahmu untuk sementara waktu akan lelahku.

Bukanlah kata terimakasih yang tepat untuk semua yang kau lakukan padaku tapi meski belum sehebat dirimu untuk menerima semua rasa yang terbagi, aku akan belajar untuk menerima rasa yang terbagi darimu, melakukan yang terbaik dari yang aku bisa.

with love
fie

Senin, 17 Desember 2012

Menunggu, Waktu dan Kesempatan

Berapa banyak dari kita menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu? Selalu mengingatkan diri  bahwa ini bukanlah saatnya, ada saat yang lebih baik dari ini.

Seperti yang selalu kulakukan. Kini kusadari menunggu membuatku kehilanggan lebih banyak hal dari yang kupikirkan. Aku tidak sedang berbicara tentang langkah terburu-buru yang tidak terpikirkan tapi langkah yang ditunda karena hal-hal yang tidak seharusnya.

Aku akan selalu mengingatkan diriku tentang hal ini, aku tak punya banyak waktu, aku tak punya banyak kesempatan, tetapi jika ku bertemu salah satunya aku akan memberanikan diriku melangkah jikapun aku tak bertemu keduanya, aku akan ambil resiko dan berharap hasilnya sama seperti yang kuinginkan.

Minggu, 23 September 2012

Tidakkah biru itu akan selalu jadi biru?


Pertanyaan itu jawaban normalnya adalah “iya”

Tapi manusia dengan otak unik seperti kamu tidak akan berhenti sampai disitukan? Jelas sudah pertanyaan selanjutnya adalah “kenapa selalu seperti itu?”

Tapi jika kujawab “tidak” juga tidak akan berhenti sampai disitukan?

Lalu kalau kujawab “tergantung situasi” juga samakan.

Huft… bisakah kita tidak mempermasalahkan hal itu? Itu sama sepertinya bertanya mengapa bumi ini harus berputar. Meski aku punya jawaban sederhanya tapi bukan berarti aku siap dengan pertanyaan selanjutnya. Hem… sekarang aku baru sadar bahwa ternyata aku punya batas untuk menjawab pertanyaan.

Selasa, 27 Maret 2012

Jalan Sejenak

Malam ini aku ingin berjalan - jalan sejenak. Menikmati dinginnya malam. Menikmati kesunyian. Hening, damai rasanya terlepas dari segalanya.

Hari - hari berlalu begitu saja. Satu aktivitas tergantikan dengan aktivitas lainnya tak menyediakan ruangan untuk 'hanya' sekedar meluruskan punggung ini, tapi apa yang perlu dikeluhkan dari itu semua? Tak ada yang perlu di keluhkan karena akan selalu ku temui malam - malam seperti ini dimana aku bisa berjalan sejenak, bersantai dengan waktu yang biasanya memburuku.

Kini bayangan menjadi teman berbicara, obrolan ringan pada diri sendiri tentang hari yang terlewati dan tentang esok hari, mengisi ke kosongan. Di saat seperti inilah, aku lebih mampu untuk jujur terhadap diriku sendiri tentang perasaan ini. Apa yang tersimpan di dalamnya, yang tersembunyi di selanya dan ini lebih melegakan dari apapun bagiku.


Selamat malam semuanya. Selamat menikmati malammu. ^^

Minggu, 18 Maret 2012

Rumah, Kebahagian. Kesedihan

Rumah memberikan kita kebahagian dan kesedihan yang sama. Sejauh apapun keinginan kita berlari darinya sejauh itu pula keinginan kita untuk kembali padanya. Sebesar apapun kita membencinya sebesar itu pula kita mencintainya.

Mengapa? Karena itulah hati kita, pikiran kita mungkin mampu merancang hal lain seperti keluar darinya dan membangun rumah baru yang lebih baik tapi hati kita tak akan pernah mampu melakukan hal itu. Hati kita bisa merasakan bahwa rumah baru bukanlah jawaban dari setiap kesedihan tapi membangun rumah yang kita miliki saat ini menjadi lebih baik adalah pilihannya.

Kita tidak bisa menerima kebahagian saja tanpa mau menerima kesedihan darinya, karena kebahagian tak pernah ada artinya tanpa kesedihan. Jika kau memilih salah satunya saja sebagai dindingnya maka kuyakin rumah tak akan pernah ada artinya untukmu.

Jumat, 10 Februari 2012

D untuk tidak berusaha

"D lagi!!! Kamu tau fie? D adalah nilai untuk kamu yang tidak berusaha, tidak bertanggung jawab terhadap pilihan. Jangan banyak alasan apalagi melemparkan kesalahan pada yang lain.Ok, perbaiki itu."

uch... mau gimana lagi sudah coba diperbaiki tapi tetap saja D. Bisa di skip ajah gak sih? (tak ada keberanian untuk mengatakannya T.T)

Jumat, 03 Februari 2012

Pernikahan dan kesenangan hati

Bukanlah "apa kabarmu fie?" yang menjadi pertanyaan utama sekarang tapi "kapan nikah fie?" dan aku hanya punya senyum sebagai jawabannya.

Beberapa orang yang kutemui mencoba menasehati seakan aku tak pernah memikirkan hal ini sama sekali dan beberapa orang lainnya serta merta menarik kesimpulan bahwa aku terlalu memilih, si penuntut kesempurnaan. Tak ada yang bisa ku katakan kecuali membuat sebuah anggukan bukan tanda setuju hanya sebuah jalan pintas agar aku keluar dari pembicaraan ini.

Apakah aku anti? .... Tidak. Apakah ada trauma?... ah itu tidak bisa dijadikan alasan. Lalu?...  bolehkan aku menjawabnya dengan senyum?. Aku tau aku tak boleh bermain-main dengan hal ini jadi senyum adalah hal baik untuk saat ini. Bagaimanapun juga menikah adalah hal wajib, harus kujalani, tak ada alasan yang bisa kuajukan untuk menghindarinya (atau dibenarkan untuk menghindarinya) oleh karena itu aku telah mengambil keputusanku, aku akan menjalaninya tapi menjalaninya dengan kesenangan hati agar aku bisa menjalani semua tanggung jawab itu, melepaskan semua egoku, rela membagi hidupku serta ......


Oh ya, aku sedang bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana diriku dalam balutan kebaya pernikahan nantinya ya?

Rabu, 18 Januari 2012

Kamu Istimewa

Dengarkan aku, kamu itu istimewa, unik dan gak ada duanya di dunia ini. Secanggih apapun ilmu pengetahuan tak akan bisa membuat sesuatu persis sama dengan mu, mirip mungkin, tapi mataku tak akan tertipu. Ada yang bilang dan kamu harus percaya ini "jika kamu berusaha menjadi orang lain, lalu buat apa kamu di lahirkan kedunia?"

Jadi jangan jadi bayangan. Jangan sembunyi. Kamu ada dan nyata. Kamu unik dan istimewa. Tak ternilai apapun. Tak tergantikan apapun. Kamu harus jadi diri kamu sendiri. Oke.

Salam sayang selalu untukmu yang istimewa.
 p.s: teruslah berusaha memperbaiki diri setiap waktu, kamu sudah istimewa dan akan lebih istimewa dengannya.

Senin, 16 Januari 2012

No Resolusi

Tak ada target apapun tahun ini karena aku tau seperti tahun - tahun sebelumnya aku hanya akan semangat diawal lalu kemudian tiba-tiba menjadi amnesia dengan semuanya diakhir. Yah ini karena aku kurang keras terhadap diriku sendiri, tidak disiplin, mudah menyerah dan sebagainya.

Tapi mungkin ini juga karena beberapa waktu ini aku hanya ingin berjalan kebelakang, entah mengapa, pikiranku tak bisa menalarnya dengan baik hanya perasaan ku saja yang mengatakan bahwa ada sesuatu disana yang harus ku temukan. Mungkin sebuah pembelajaran atau sebuah kepingan untuk melengkapi teka teki yang ada saat ini. yang pasti inilah yang terbaik untuk saat ini.

Minggu, 15 Januari 2012

Dia selalu mendengar dan selalu mengerti.

Sudah berlebihan rasanya bagiku untuk meminta selalu didengar dan dimengerti tanpa sedikitpun mendengar dan mengerti. Aku sudah terlalu tua untuk merengek mengenai kehidupan, bersandar pada ke-Maha-an dan melebihi batasku sebagai hamba.


hamba ingin memperbaiki diri ya Allah, untuk memahami tentang hal hal yang hamba suka tapi Engkau membencinya. hamba mohon ya Allah, beri hamba sedikit waktu lagi untuk belajar mendengar dan mengertiMu. ingatkanlah hamba agar tidak melebih batas. amin.

Rabu, 26 Oktober 2011

T O W S dan Mimpi

T O W S, tahu tentang deretan huruf ini? mungkin jika yang bergelut dibidang marketing akan sangat mengerti bahwa deretan huruf itu merupakan strategi kebalikan dari S W O T. Keduanya memiliki kepanjangan huruf yang sama yaitu S untuk Strengths (Kekuatan), W untuk Weaknesses (Kelemahan), O untuk Opportunities (Kesempatan), dan T untuk Threats (Ancaman) tetapi pada perumusan strategi marketing diaplikasikan secara berkebalikan .

Lalu apa hubungannya dengan mimpi?

Jika aku berbicara tentang SWOT dalam mewujudkan Mimpi maka aku harus memulai semuanya dari mengenali apa yang menjadi kekuatan (S) dan kelemahanku (W) untuk melihat apakah aku memiliki kesempatan (O) untuk bermimpi hal itu dan mewujudkannya ditengah semua ancaman (T) yang mencoba menggagalkannya. Jika memang ada kesempatan itu maka aku akan bermimpi itu, dengan arti lain mimpiku hanya sebatas kekuatanku.

Tapi jika seperti itu, apakah aku tak pantas untuk dapat mewujudkan sesuatu yang lebih? Tidak, tidak seperti itu. Kuyakini diriku bahwa aku bisa mewujudkan mimpi yang lebih besar dari kekuatanku. Maka kali ini aku akan memilih TOWS untuk mewujudkannya.

Untuk mewujudkan mimpi, aku harus menyadari ancaman (T) terbesar apa yang kumiliki yang mampu membuat ku gagal untuk muwujudkannya lalu mencari kesempatan (O) yang kupunya disela-sela ancaman baru kemudian beralih pada diriku, pada kelemahanku (W) setelah mengetahui semua itu maka aku akan bangun kekuatanku (S) untuk mewujudkannya.

Sekarang kekuatan bukanlah lagi batas yang kumiliki tetapi sesuatu yang harus kubangun untuk mewujudkanmu. Aku tau butuh waktu dan usaha yang lebih tapi bukan mimpi namanya jika mudah di wujudkan.

Semangat selalu. ^-^v

Rabu, 27 Juli 2011

Ada bagian yang tak hilang

“Tapi tetap saja ada bagian disini yang…”

Yessy melengkapi kata-katanya dengan gerakan menunjuk dadanya setelah itu diam dan aku melepaskan pandanganku darinya. Gambarnya kini berganti dengan orang-orang hilir mudik yang membuatku bertanya-tanya tentang keinginan besar yang mereka punya, telah terwujudkah? atau hasilnya tak sesuai dengan keinginan atau mungkin mereka belum menemukan jawabannya.

“Ya, sebanyak apapun kita meracuni pikiran kita dengan hal positif tak akan mampu menghilangkan bagian itukan? Kata-kata bijak seperti Tuhan punya rencana lain untuk kita atau inilah yang terbaik untuk kita dan bla bla bla lainnya tetap tak akan mampu…” aku kembali melihatnya “..menghilangkannya”.

Yessy menganguk “ya, apa yang salah? Apa yang kurang? Kurasa aku telah memberikan yang terbaik dari yang aku punya, aku benar-benar berusaha lalu mengapa tidak seperti yang diharapkan? Apakah belum cukup? Mengapa rasanya orang lain mudah saja mewujudkannya”

“Bukankah itu baik Yes? Perasaan yang tidak bisa menerima sesuatu (kegagalan) dengan begitu saja. Perasaan itulah yang akan membuat kita mengerti bahwa hidup bukan hanya hidup saja, yang akan membuat kita berusaha untuk terus lebih baik lagi - terus belajar dari kesalahan, perasaan yang akan membuat kita menghargai banyak hal dan tidak menyiakan waktu?”


“Aku rasa tidak ada yang bisa kita lakukan dengan perasaan itu hanya saja jika kamu masih memiliki keinginan yang sama berusahalah Yes hingga batas akhirmu”


* Aku masih memikirkan percakapan kami di malam ini,  perasaan yang tidak bisa menerima sesuatu dengan begitu saja bukankah sejalan dengan "manusialah yang mampu merubah nasibnya sendiri"?

Senin, 07 Maret 2011

Ordinary Miracle in the Morning

“Moy dah siang” sayup ku dengar suara khas yang sudah sangat ku kenal. “moy, dah jam berapa ini?” Telingaku semakin jelas menangkap suaranya seiring dengan semakin penuhnya kesadaranku. Kukerjapkan mataku untuk membuatnya terbiasa dengan cahaya. Pagi. Aku menemukan satu hari lagi pagi dalam waktuku. Pagi. Aku masih memiliki satu pagi lagi untuk bersama orang terkasih. Pagi. Batapa menakjubkannya hidup jika kamu bisa menikmati satu pagi lagi.

“Moy, ayo bangun katanya gak mau telat” aku melihatnya dan pagi ini rasanya ingin sedikit bermanja-manja. Aku mengulurkan tanganku, menggerakan jari-jariku membuat tanda padanya untuk membantuku duduk. Dia menarik nafas dan mengeleng kemudian mendekatiku. “dah gede kok masih gini!” aku tersenyum dengan suara parau berguman “maaasih ngantuuk loooh Maaa”. Mama tersenyum lalu membantuku untuk duduk dengan memelukku. “ayo cepet” bisiknya setelah menciumku lalu beranjak pergi. Aku mengangguk lalu diam sejenak, aku termasuk orang yang tak pernah berkeberatan dengan kalimat bahwa “anak tetaplah anak-anak bagi orang tuanya”  karena pada kenyataannya setua apapun kita, orang tua kita pasti akan terus mengkhawatirkan kita, anak-anaknya, diucapkan atau tidak diucapkan, diperlihatkan atau tidak diperlihatkan. Dan oleh karena itu, sah-sah saja buatku sekali waktu bermanja-manja dengan mereka, pada dasarnya aku hanya ingin menikmati anugerah waktu yang diberikan padaku untuk bersama mereka itu saja tak ada yang lainnya.

Duduk diam menikmati anugerah pagi ini, mengisi paru-paruku dengan oksigen, membuka selimut dan membiarkan pori-pori kulitku menikmati dinginnya udara pagi. Merasakan jantungku berdegup pelan lalu mulai menggerakan kakiku yang masih pegal, “minggu yang unik yah kaki, pagi kau dengan high heels dan sore kau dengan sepatu futsal, bertahan yah ini demi kerjaan” aku terkekeh sendiri mendengar ucapanku. Setelah kesimbangan ku dapat dan kakiku kuat untuk menopang tubuh, aku mulai melangkah, tulang-tulangku bergerak seirama, kaki ku bergerak kearah yang sama bukan berlawanan itu artinya saraf-saraf otakku bekerja baik. Apa jadinya jika yang kaki kanan bergerak kedepan dan yang kiri bergerak kebelakang? Mungkin aku tak akan pernah tau bau harum apa ini yang tercium hidungku. “masak apa ma?” tanyaku setelah sampai di dapur. “nasi goreng, udah sana mandi dulu” kata Mama, aku menganguk tak sabar menikmati makanan favoritku.

Selesai sudah mandi, bersiap-siap dengan pakaian kerja terbaik yang artinya tidak ada yang sobek ^-^. Lalu beranjak pada anugerah pagi lainnya di atas meja makan, anugerah pagi untuk tubuhku. Sarapan nasi goreng dengan telur dadar dan segelas susu cokelat. Asupan energi sampai tengah hari, aku siap beraktifitas. Sebelum pergi aku kembali bercermin untuk memastikan aku berpenampilan dengan baik. Aku tersenyum melihat bayangku dalam cermin dan berbicara pada diri sendiri “banyak yang mengangapnya bukan anugerah karena selalu ada dalam hari-hari kita padahal itu adalah anugerah jika kita mau berpikir ^-^ "

Selamat beraktifitas semuanya, selamat menikmati minggu yang menyenangkan, selamat menikmati anugerah-anugerah dihidupmu.

Minggu, 06 Maret 2011

Rumah untuk pulang


    
Float - Pulang

Mencoba mengusir dingin dengan memeluk diri sendiri, menghitung mundur detik, menunggu lampu bewarna merah itu berganti hijau di atas sepeda motorku. Jam 09.20 malam, aku masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Rumah yah rumah untuk pulang. Siapa yang tak menginginkannya? Setiap dari kita pasti menginginkannya. Banyak dari kita yang bekerja keras untuk membangunnya, memenuhinya dengan banyak hal, mempercantiknya dan semua itu adalah untuk membuatnya menjadi surga kecil kita, tempat ternyaman di dunia yang tak akan terganti apapun. Mungkin jika ditanya seperti apa rumahmu? Kita mungkin sepakat dengan mengatakan “tak ada yang lebih indah dari rumahku” dan kita bersedia berkelahi untuk itu. 30 menit dalam perjalanan ada perasaan rindu yang menggenang dihatiku, malam ini aku ingin cepat sampai dirumah

Sebuah rumah bercat kuning muda dengan lampu ruang tamu yang masih menyala. Aku bisa menebak siapa yang menungguku. Pintu terbuka. Aku melihat wajah yang sangat ku kenal, Mama menyambut dengan senyum, terlihat lelah tapi tetap memaksakan diri menungguku. “dah makan?” tanyanya setelah ku lepaskan helm dan sepatu, aku menggeleng, nasi terakhir yang masuk ke perutku tadi siang tapi malas sekali rasanya untuk makan “mama, buatin susu yah?” aku tersenyum dan mengangguk cepat. Mama sudah sangat tau jika aku tak mengucapkan iya maka aku menolak untuk makan tapi aku tak pernah menolak jika dibuatkan susu coklat olehnya.

Setelah selesai membersihkan diri, ku ambil segelas coklat yang sudah tersedia dan mulai meminumnya. Di dalam sini aku merasa hangat dan ini bukan karena susu coklatnya. Kusadari rumah ini taklah sempurna, ada guratan-guratan sedih di dindingnya yang ingin ku lupakan, bagian-bagian yang ingin ku buang, pertengkaran-pertengkaran yang menguap tapi masih kuingat, keinginan untuk pergi dari sini yang masih tergantung di langit-langit rumah tapi tak akan pernah ku lakukan karena kusadari apalah artinya sempurna jika ini sudah cukup bagiku.

Rumah ini taklah sempurna tapi apalah artinya sempurna jika ini sudah cukup bagiku. Banyak orang yang tak seberuntung aku memiliki rumah untuk pulang apa lagi merasakan hangatnya cinta dari orang terkasih. Alhamdulillah. Syukur ku untuk mu Allah.


bon jovi You take the home from the boy, but not the boy from his home”

Jumat, 17 Desember 2010

Nilai Hidup

Banyak hal yang diberi nilai dalam hidup, itu adalah sesuatu yang wajar karena Hidup memang Bernilai dan nilainya akan berbeda bagi setiap jiwa.

Dari kecil aku dan mungkin kalian diharuskan untuk memenuhi nilai-nilai yang ditetapkan orang yang lebih tua dari kita, ketika mereka melihat nilai kita bagus itu artinya kita sudah mengerti tentang hal yang mereka ajarkan tapi tanyakan lagi pada diri kita apakah kita benar-benar memahaminya lebih dari sebuah angka atau peringkat?

Ada seseorang yang bilang "yang penting itu nilai bagus, mengerti atau enggak itu urusan belakang" aku mengiyakannya, seperti nilai yang kita dapat di bangku sekolah berapa banyak dari kita yang orang tuanya bertanya "dari mana kamu dapat nilai bagus itu?" jarang sekali bukan? mereka cukup tau bahwa nilai kita bagus, itu saja. Dan parahnya tanpa ku sadari prinsip masa bodoh itu menjalar ke nilai-nilai hidup yang lain, yang terpenting aku di nilai bagus, bagaimana caranya aku selalu bernilai bagus? yah tentu saja dengan memenuhi standar-standar nilai umum hidup, seperti :
1. orang akan menganggap aku baik jika selalu membantu orang lain, padahal aku memang mempunyayi  kepentingan  khusus saat membantu.
2. orang akan mengangap aku soleha jika aku shalat lima waktu, padahal itu hanya agar orang berhenti bicara "muslim kok gak shalat." bukan karena kecintaan ku pada Allah.
3. orang akan menganggap aku pintar jika aku mendapat angka bagus dirapor, padahal aku mendapatkannya dengan mencontoh pekerjaan orang lain.
dan masih banyak lagi yang hanya karena nilai.

Sekarang kusadari bahwa nilai itu sebenarnya lebih dari angka atau peringkat lebih dari pendapat orang lain. untuk apa aku mendapat nilai bagus jika aku tidak mengerti sama sekali tentang apa yang ku kerjakan, harusnya aku tau apa yang kulakukan, mengapa kulakukan itu, apa manfaatnya buatku. aku tak mau melakukan hal yang tidak berguna hanya untuk memenuhi penilaian umum.

aku berusaha mengubah prinsip yang telah menjadi kebiasaan meski baru sebagian hal yang baru dapat ku ubah tapi bukankah ini langkah untuk menjadi lebih baik. Kuharap ini nilai benar dihidupku.

Rabu, 15 Desember 2010

Lalu apakah aku?

Lalu apakah aku adalah kamu atau aku adalah dia?

Apakah aku adalah kamu yang selalu mempertanyakan bagaimana segala sesuatunya berlaku?
atau
Apakah aku adalah dia yang hanya menjalani hidup dan berpikir segala sesuatunya memang sudah semestinya?

Ketika aku menjadi kamu maka dia akan menudingku sebagai orang gila, pembuat onar yang bertanya tentang hal aneh dan tak seharusnya. “bukankah lebih baik kamu beribadah untuk surga setelah kehidupan ini” kata dia, pernyataan yang jelas tidak untuk dibantah yang membuat aku yang telah jadi kamu tercekat tak mampu berkata apapun lagi.
Ketika aku menjadi dia maka kamu akan menudingku sebagai orang yang menutup mata dari kenyataan hidup, bergelut dengan kenyamanan semu, takut untuk berselisih kata, menjadi manusia umum. “dasar pengikut, aku yakin sekali kamu tak tau apa yang kamu ikuti, karena kamu tak pernah bertanya mengapa semua ini berlaku bagimu, tak ada gunanya otak dikepalamu” kata kamu, pernyataan yang jelas tidak untuk dibantah yang membuat aku yang telah jadi dia tercekat tak mampu berkata apapun lagi.

Lalu apakah aku? ketika kubilang aku adalah kamu dan dia maka kamu dan dia serentak berkata "dasar tidak punya pendirian!" tidak, aku bukan tidak punya pendirian, aku tak akan memilih kamu atau dia karena dari kamu dan dia tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya, buatku sama baiknya.

Ada hari dimana aku ingin menyelesaikannya begitu saja tanpa bertanya mengapa ada hari ini untukku, menyelesaikan tanggung jawabku, makan dan minum tanpa berpikir itu merupakan rejeki hari ini, tapi ada hari dimana ketika aku terbangun dengan pertanyaan mengapa aku tetap terbangun pagi ini, ada apa hari ini hingga Tuhan masih membuatku dapat bernafas, berpikir dan bergerak, mengapa aku masih bisa bersendagurau dengan orang-orang yang kusayangi dan banyak pertanyaan lainnya.

Jadi aku adalah kamu dan dia dan itu adalah yang paling tepat.

Senin, 13 Desember 2010

Ketika Dia...

Ketika dia berhenti bertanya tentang dunia, tentang bagaimana terciptanya alam semesta, tentang kehidupan setelah kematian, tentang detik awal setelah ketiadaan, atau mungkin tentang keberadaan Tuhan dan akhirnya menerima jawaban “bahwa segala sesuatunya (yang dia pertanyakan) memang sudah selayaknya demikian”, diciptakan sang Pencipta lalu “menerima hidup sebagaimana semestinya” dan “menjalaninya dengan sebagaimana semestinya juga” hingga menjadi sangat “terbiasa” dengan segala sesuatunya yang pada akhirnya membuat dia merasa “biasa” dengan segala sesuatunya, terseret dalam arus realitas yang dikatakan Paulo Friere sebagai dimensi tunggal atau yang dikatakan Martin Heidegger sebagai dasman-hilang dalam massa yaitu ketidakmampuan untuk menghayati hidup atau yang dikatakan Jostein Gaarder dalam bukunya Dunia Shopie sebagai sesuatu yang mengarah ke apatis dan acuh tak acuh pada hidup.

Benarkah dia menjadi “biasa”?

Benarkah dia kehilangan kemampuan berpikir dalam frame yang lebih besar hanya berpikir dalam frame kecil yaitu bagaimana dia harus menyelesaikan hari ini membuatnya terlihat menjadi makmum dari budaya?

Benarkah demikian?

Ketika Kamu...

Ketika kamu bertanya tentang kehidupan dengan segala misterinya, berkutat dengan pertanyaan siapa dirimu? bagaimana kamu ada? untuk apa kamu ada? darimana asalnya dunia? Mengapa ada angkasa? atau pertanyaan yang lainnya yang menjadikan kamu (merasa) “teristimewa” dari yang lainnya karena pertanyaanmu lebih dari sekedar pertanyaan “bagaimana aku harus menyelesaikan hari ini?”

Benarkah demikan?

Ketika kamu melihat dunia sebagai arena teka-teki yang luas, memandang segala sesuatunya menakjubkan seperti seorang anak yang baru mengenal segala sesuatunya, tidak pernah terbiasa dengan segalanya dan kamu dengan bangga memperlihatkan bagaimana caranya melepaskan diri dari mitos-mitos budaya atau mungkin agama dengan menjelaskannya secara rinci bagaimana sesuatu itu "ada" dengan ilmu pengetahuan bukan dengan angan-angan.

Benarkah kamu lebih istimewa?

Jumat, 03 Desember 2010

Strawberry Orange

Ditanganku ada segelas jus terlihat seperti jus strawberry karena warna merah yang dominan tapi tidak itu bukan hanya jus strawberry karena  dalam gelas itu... strawberry diblend dengan orange, tidak terlihatkan? tapi tunggu hingga kau mencicipinya.

Orange meski tak terlihat bukan berarti tidak ada, dia ada dalam gelas itu, mengalah untuk warna tetapi tidak dengan rasa, meng-ada dengan caranya sendiri.

Meng-ada dengan cara sendiri? Ketika kemarin ku katakan pada diriku mengenai dimensi tunggal yang tidak seharusnya, bukan hanya beradaptasi tetapi  berintegrasi yang akan mengarah pada eksistensi "ada" yang terlihat nyata (ada = terlihat) dilingkuangku, orange dengan rasanya mengingatkan ku kembali pada pertanyaan dasar "apakah ada itu berarti terlihat?"

Serupa perasaan, bukankah dia ada dan sangat nyata tapi toh dia tidak terlihat, untuk  menjadikannya terlihat maka harus ada pengakuan personal yang merasakannya. Pengakuan personal bukan pengakuan publik maka jika aku ada dan ingin terlihat maka aku harus melakukan pengakuan personal.

Menjadi utuh tidak butuh pengakuan publik tapi pengakuan personal. Right?


BIP dan Santika, Bandung Last Night

Minggu, 28 November 2010

Sujud

Sujud. Katanya “Jangan hanya menaruh kepala dan mengucap doa, jangan hanya menjadikannya ritual tapi turutkan juga hatimu, sujudkan juga hatimu. Sujud memang merendahkan tubuhmu tapi kau tau itu adalah titik tertinggi dari seorang manusia.”

“Bagaimana bisa?”

“Hatimu sangat mengetahuinya, ketika kamu sujud, kamu dengan kesadaran penuh mengakui saya manusia, saya adalah ciptaan ketika kau turutkan juga hatimu maka itu akan menyempurnakannya ‘saya manusia, ciptaanMu, dengan segala kelemahan dan hanya Engkau yang bisa menguatkan’ jika kau turutkan hatimu maka ini bukan hanya tentang 5 waktu tapi setiap detiknya.dan itu sudah seharusnya jika kau beriman”


Bukan tentang lima waktu tapi setiap detiknya.