Minggu, 13 Mei 2012

Bubbling Lemonade, Hidup yang Menyenangkan

Bubbling Lemonade minuman malam itu menemani perbincangan kita di Library Cafe. "Kecut" itulah yang kurasakan seperti minuman malam itu saat mendengar orang - orang berkata hal-hal aneh padaku tapi untunglah aku selalu dapat pemanisnya. Hidup sangat menyenangkan bisa bertemu dengan orang - orang sepertinya, membantuku menerima hal-hal yang tak kusakai, hal-hal yang membuatku sedih dengan cara yang lebih baik, lebih meyenangkan.

"kita bukan malaikat, ngelempar bunga sebagai balasnya adalah hal baik tapi kalau kamu merasa tak cukup, gak ada yang ngelarang kok kamu ngelempar sekalian sama potnya"

kata - kata itu membuatku tertawa, bukanlah kata yang kuharapkan tapi toh itu mampu menguapkan yang ada dihatiku. Aku mengantongi banyak tips mu dan sekali waktu boleh juga memperaktekannya. :P

Jumat, 04 Mei 2012

Kerangka Waktu

Hidup memiliki kerangka waktunya. Taklah merasa terjebak akannya tapi ketika berjalan beriringan aku mengerti ada detik pemberhentian dari semua ini. Kata orang 20 tahun dari saat ini kita akan lebih banyak menyesal akan hal - hal yang tidak kita lakukan daripada menikmati hasil dari hal hal yang telah kita lakukan karena itu saat umurku 47 kelak, aku (setidaknya) tak ingin menyesal akan banyak hal oleh karena itu mulai hari ini aku akan melakukan banyak hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya.


Malam terkahir di Semarang, belajar dari guru kehidupan.
04.05.2012

Kamis, 29 Maret 2012

Nasionalisasi Migas ala Bolivia

Bersedih untuk negara ini tapi aku tak akan berhenti disini masih banyak waktu untuk terus memperbaiki tak akan pernah menyerah dan tak akan pernah kehilangan harap untuk hal lebih baik.

Tulisan ini di ambil dari  http://lib.geologi.ugm.ac.id/web/index.php?option=com_content&view=article&id=93:nasionalisasi-migas-ala-bolivia-&catid=1:latest-news , email seorang teman, Mohamad Khoirul Anam.


Nasionalisasi Migas ala Bolivia


Written by Administrator   
Monday, 19 September 2011 04:49
Kita tidak perlu galak dan terlalu keras seperti Bolivia dan Venezuela menghadapi koporasi asing. Cukup dengan ketegasan, kemandirian, dan komitmen kebangsaan. Mereka adalah mitra, bukan majikan kita. Namun, kepemimpinan nasional yang ada harus lebih visioner, lebih tegas, dan lebih berani. Kita sudah terlalu lama jadi bangsa miskin di tengah sumber daya alam melimpah.
***
Evo Morales (46) memenangi pemilihan presiden atau pilpres Bolivia pada Desember 2005 dan dilantik Januari 2006. Ia adalah penduduk asli Bolivia dari suku Indian Aymara, yang dalam kampanyenya menekankan perlunya pemilikan kembali rakyat Bolivia atas sumber daya alam, khususnya hydrocarbon (migas) yang selama itu dikuasai korporasi asing.

Cadangan gas alam Bolivia ditaksir lebih dari 50 triliun kaki kubik dengan nilai lebih dari 70 miliar dollar AS, sementara penduduknya sekitar sembilan juta.belum lagi kekayaan alam seperti minyak, barang-barang mineral, dan kekayaan hutan. Morales menyatakan dirinya tidak gila jika bercita-cita memakmurkan rakyat Bolivia sejajar rakyat Swedia.

Selama berkampanye, Morales berjanji sumber daya alam tidak dapat diprivatisasi, tidak boleh dikuasai korporasi asing, dan harus dilakukan renegosiasi (negosiasi ulang) atas seluruh kontrak karya pertambangan. Evo juga setuju bila perlu melakukan nasionalisasi tanpa konfiskasi, nasioanalisasi tanpa ekspropriasi, alias negosiasi tanpa perampokan. Dengan kata lain, akan ada kompensasi (ganti rugi) terhadap korporasi asing bila Bolivia terpaksa melakukan nasionalisasi.

Di Bolivia ada 20-an korporasi asing bergerak di pertambangan migas, antara lain Repsol YPF (Spanyol), Petrobras (Brasil), Total (Perancis), Exxon (Amerika), British Gas (Inggris), dan Royal Dutch Shell (Belanda).

Mereka mencoba menakut-nakuti Morales dengan gertak sambal. Katanya, Bolivia dapat dibawa ke arbitrase internasional dan rugi miliaran dollar AS karena berani mengotak-atik, bahkan menuntut negosiasi ulang berbagai kontrak karya dan bagi hasil yang telah ditandatangani.

Akan tetapi, Morales bukan Si Peragu seperti dua presiden sebelumnya, Gonzalo Sanches de Lozada dan Carlos Mesa yang diusir rakyatnya karena menempatkan diri sebagai pembela kepentingan korporasi asing, bukan kepentingan rakyat Bilivia.

Morales membangun axis of good atau poros kebaikan terdiri dari Bolivia, Venezuela, dan Kuba, untuk menyindir axis of evil atau poros kejahatan yang kata George Bush terdiri dari Korea Utara, Iran, dan Irak. Dalam wawancaranya dengan Der Spiegel, Morales mengatakan, reserve moral yang ia miliki terdiri dari trilogy sederhana: jangan mencuri, jangan bohong, dan jangan malas (do not steal, do not lie, and do not be idle).

Korporasi asing tunduk


Setelah lima bulan menjadi Presiden Bolivia, Morales melaksanakan janjinya. Tanggal 1 Mei 2006 tentara Bolivia menduduki 56 ladang gas dan minyak  serta instalasi penyulingan di sekluruh negeri. Dekrit Presiden Nomor 28701 tentang nasionalisasi industri migas diterbitkan. Rakyat Bolivia lega, Presiden memenuhi janji.

Dalam dekrit itu, antara lain ditegaskan, cadangan minyak dan gas Bolivia dinasionalisasi, 51 persen saham pemerintah yang pernah diprivatisasi di lima perusahaan migas pada tahun 1990 diambil kembali; seluruh perusahaan migas asing harus menyetujui kontrak baru yang ditentukan Yaciementos Petroliferos Fiscales Bolivianos (YPFB), perusahaan negara milik Bolivia dalam tempo 180 hari; gabungan pajak dan royalty yang diserahkan perusahaan gas asing yang memproduksi lebih dari 100 juta kaki kubik dinaikkan menjadi 82 persen dari sebelumnya yang hanya 50 persen dan mula-mula hanya 30 persen; Pemerintah Bolivia melkukan audit investasi dan keuntungan semua perusahaan migas asing di Bolivia untuk menentukan pajak, jumlah royalty dan ketentuan operasi di masa depan; dan tak kalah penting, migas hanya boleh diekspor setelah kebutuhan domestic Bolivia dipenuhi. Jika tidak setuju isi dekrit, perusahaan asing itu dipersilahkan meninggalkan Bolivia.

Apa yang terjadi? Sehari sebelum tanggal, 29 Oktober 2006, semua korporasi besar yang beroperasi di Bolivia memilih tetap di Bolivia, tunduk kepada kemauan pemerintah, yang hakikatnya kemauan rakyat Bolivia.

Evo Morales, seperti Hugo Chavez, Presiden Venezuela sebelumnya, membuktikan kekeliruan brain washing, menuntut renegosiasi kontrak karya yang merugikan rakyat mustahil dilakukan bila sudah ditandatangani.

Keuntungan Bolivia

Chavez dan Morales mampu menerobos kendala mental, moral, politik, dan ekonomi yang sengaja dipasang berbagai korporasi asing. Menurut Morales, berkat negosiasi ulang, Bolivia meraup satu miliar dollar AS, dan empat miliar dollar AS per tahun pada tahun-tahun berikutnya. Belum lagi jika renegosiasi kontrak nonmigas dan sumber-sumber non-renewable lain juga berhasil.

Mengingat jumlah rakyat Bolivia hanya seperduapuluhdua rakyat Indonesia, perolehan Bolivia seperti jika Indonesia mendapat 88 miliar dollar AS per tahun. Rakyat Bolivia tentu lebih bahagia dibandingkan rakyat Bangdades yang salah satu putra terbaiknya meraih Nobel Perdamaian. Dan tentu lebih berbahagia dibanding rakyat Indonesia yang diberi tahu para pemimpinnya bahwa kontrak karya migas dan nonmigas dengan korporasi asing tidak bisa diubah.
Mengapa? Katanya, jika menuntut negosiasi ulang, apalagi nasionalisasi industri migas dan pertambangan, Indonesia bisa dikucilkan masyarakat internasional. Katanya, investasi asing emoh masuk Indonesia. Selain itu, ada adagium pacta sunt servanda, sekali kontrak di tandatangani, perlu dihormati “kesuciannya”, meski menempatkan Indonesia for sale, dijual untuk umum.

Kita tidak perlu galak dan terlalu keras seperti Bolivia dan Venezuela menghadapi koporasi asing. Cukup dengan ketegasan, kemandirian, dan komitmen kebangsaan. Kita dapat melindungi dan menomorsatukan kepentingan korporasi asing. Mereka adalah mitra, bukan majikan kita. Namun, kepemimpinan nasional yang ada harus lebih visioner, lebih tegas, dan lebih berani. Kita sudah terlalu lama jadi bangsa miskin di tengah sumber daya alam melimpah.

Andaikata pemerintah, DPR, dan berbagai kekuatan masyarakat bersatu menjadikan koporasi pertambangan asing sebagai mitra, negeri ini tidak perlu menjadi bangsa musafir yang tiap tahun bingung mencari utang luar negeri baru. Sementara itu kekayaan sendiri disodorkan untuk penjarahan asing.

Jika direnungkan, Exxon dan Freeport Mc.Moran, misalnya keduanya bukan seperti a state above a state. Ingat, di Indonesia ada lusinan korporasi asing yang terus menyedot kekayaan migas dan non migas bangsa Indonesia. Sampai Sekarang.()

Makalah disampaikan pada Orasi Lingkungan “Selamatkan Indonesia”, pada 4 Juli 2008,  diselenggarakan KMPLHK RANITA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
sumber http://www.jatam.org/content/view/443/27/

Selasa, 27 Maret 2012

Jalan Sejenak

Malam ini aku ingin berjalan - jalan sejenak. Menikmati dinginnya malam. Menikmati kesunyian. Hening, damai rasanya terlepas dari segalanya.

Hari - hari berlalu begitu saja. Satu aktivitas tergantikan dengan aktivitas lainnya tak menyediakan ruangan untuk 'hanya' sekedar meluruskan punggung ini, tapi apa yang perlu dikeluhkan dari itu semua? Tak ada yang perlu di keluhkan karena akan selalu ku temui malam - malam seperti ini dimana aku bisa berjalan sejenak, bersantai dengan waktu yang biasanya memburuku.

Kini bayangan menjadi teman berbicara, obrolan ringan pada diri sendiri tentang hari yang terlewati dan tentang esok hari, mengisi ke kosongan. Di saat seperti inilah, aku lebih mampu untuk jujur terhadap diriku sendiri tentang perasaan ini. Apa yang tersimpan di dalamnya, yang tersembunyi di selanya dan ini lebih melegakan dari apapun bagiku.


Selamat malam semuanya. Selamat menikmati malammu. ^^

Minggu, 18 Maret 2012

Rumah, Kebahagian. Kesedihan

Rumah memberikan kita kebahagian dan kesedihan yang sama. Sejauh apapun keinginan kita berlari darinya sejauh itu pula keinginan kita untuk kembali padanya. Sebesar apapun kita membencinya sebesar itu pula kita mencintainya.

Mengapa? Karena itulah hati kita, pikiran kita mungkin mampu merancang hal lain seperti keluar darinya dan membangun rumah baru yang lebih baik tapi hati kita tak akan pernah mampu melakukan hal itu. Hati kita bisa merasakan bahwa rumah baru bukanlah jawaban dari setiap kesedihan tapi membangun rumah yang kita miliki saat ini menjadi lebih baik adalah pilihannya.

Kita tidak bisa menerima kebahagian saja tanpa mau menerima kesedihan darinya, karena kebahagian tak pernah ada artinya tanpa kesedihan. Jika kau memilih salah satunya saja sebagai dindingnya maka kuyakin rumah tak akan pernah ada artinya untukmu.

Rabu, 14 Maret 2012

Home Alone, bukan film

Cerita 10 hari ini.

Aku memaksa mata ini untuk terpejam dengan tujuan biar lebih cepat tertidur, efeknya adalah telinga ku semakin sensitif dengan suara suara sekeliling meski itu pelan, alih alih tertidur pikiranku malah dipenuhi banyangan bayangan yang bukan - bukan. Kemarin terbangun 4 kali dalam semalam dan sekarang tidak mengantuk sama sekali "Hufttt.... mengapa jadi takut dirumah sendiri sih fie?" aku merengek pada diri sendiri.

Suara sms membuatku membuka mata "adek, dah dirumahkan, jangan lupa matiin lampu, kompor, sama kunci rumah, oke. muachh" sms dari Kakak. Aku bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. 2 bulan ini adalah training untukku belajar mandiri, mengurus segala sesuatunya sendiri, Si Mama keriting yang bisanya mengurus segalanya lagi pulang kampung meninggalkan anaknya yang manja ini untuk 2 bulan lamanya. Yup manja, si manja ini tak melakukan banyak hal dirumah hanya tidur, makan dan mandi selebihnya Si Mama Keriting lah yang menangani dan sekarang dan selama 2 bulan ini dia akan melakukannya sendiri tanpa Si Mama Keriting. Bisakah???

Aku berdiri beranjak ke ruang tamu, memeriksa kunci lalu melihat sekeliling, "memang sudah saatnya belajar mandiri."

Dimulailah aktivitas baruku. Kerja, kuliah, belanja bahan makanan, nyuci, setrika, nyapu, ngepel, masak, bayar iuran ini itu dll. Awalnya sangat melelahkan tapi aku menikmatinya, ingin menunjukan pada Si Kriting bahwa anak manjanya ini bisa mandiri. ^^
  

Kamis, 01 Maret 2012

Bunga Mimpi

Inilah yang tergambarkan :

             Di kelilingi oleh kegelapan, terkepung oleh air, nafas ini rasanya sudah tak bisa kutahan lagi tapi cahaya itu, cahaya di dasar itu. Ku ulurkan tangan ku lebih panjang, kugerakan tubuhku untuk terus menyelam kedasar, terus memohon dan mengutuk tubuh ini untuk bergerak lebih cepat hingga akhirnya dingin yang memenuhi paru-paru ini membuat ku berhenti, berhenti mengutuk memohon, dan berhenti melihat cahaya itu.

Selasa, 21 Februari 2012

Tidak Adil

"hidup ini tidak adil!" katamu. Ketika ku tanyakan padamu dimana letak keadilannya, kau diam dan menatapku seakan itu pertanyaan paling bodoh yang pernah ku ajukan. Aku hanya bisa menelan ludah saat kau lebih memilih menjawabku dengan beratnya nafas lalu pergi meninggalkanku sendiri.

Aku salah, berkata dengan tidak melihat situasi, hanya saja  kata 'tidak adil'mu mengingatkan ku pada sebuah daftar yang masih kosong diantara daftar - daftar lainnya yang kupunya yang penuh dengan coretan seperti target ku tahun ini atau tempat yang harus di kunjungi dan lainnya


Daftar itu masih kosong entah karena tidak ada keberanian untuk mengisi atau karena aku sudah sangat tau jelas hasilnya. Daftar yang bagian atasnya tertulis 'Hal Baik dan Hal Buruk yang terjadi pada dirimu' dan dibawahnya tertulis 'mana yang lebih banyak fie?'

Senin, 13 Februari 2012

Satu

Kita harus meluruskan hal ini. Ia-lah satu. Tapi kata satu disini bagimu dan bagiku bisa saja sama dan bisa jadi berbeda. Jadi jangan kau tarik garis lurus terlebih dahulu sebelum kita saling mengetahui dasar dari kata satu. 



Sekalipun pendapat itu dapat di nalar tapi belum tentu itu benar.

Jumat, 10 Februari 2012

D untuk tidak berusaha

"D lagi!!! Kamu tau fie? D adalah nilai untuk kamu yang tidak berusaha, tidak bertanggung jawab terhadap pilihan. Jangan banyak alasan apalagi melemparkan kesalahan pada yang lain.Ok, perbaiki itu."

uch... mau gimana lagi sudah coba diperbaiki tapi tetap saja D. Bisa di skip ajah gak sih? (tak ada keberanian untuk mengatakannya T.T)

Jumat, 03 Februari 2012

Pernikahan dan kesenangan hati

Bukanlah "apa kabarmu fie?" yang menjadi pertanyaan utama sekarang tapi "kapan nikah fie?" dan aku hanya punya senyum sebagai jawabannya.

Beberapa orang yang kutemui mencoba menasehati seakan aku tak pernah memikirkan hal ini sama sekali dan beberapa orang lainnya serta merta menarik kesimpulan bahwa aku terlalu memilih, si penuntut kesempurnaan. Tak ada yang bisa ku katakan kecuali membuat sebuah anggukan bukan tanda setuju hanya sebuah jalan pintas agar aku keluar dari pembicaraan ini.

Apakah aku anti? .... Tidak. Apakah ada trauma?... ah itu tidak bisa dijadikan alasan. Lalu?...  bolehkan aku menjawabnya dengan senyum?. Aku tau aku tak boleh bermain-main dengan hal ini jadi senyum adalah hal baik untuk saat ini. Bagaimanapun juga menikah adalah hal wajib, harus kujalani, tak ada alasan yang bisa kuajukan untuk menghindarinya (atau dibenarkan untuk menghindarinya) oleh karena itu aku telah mengambil keputusanku, aku akan menjalaninya tapi menjalaninya dengan kesenangan hati agar aku bisa menjalani semua tanggung jawab itu, melepaskan semua egoku, rela membagi hidupku serta ......


Oh ya, aku sedang bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana diriku dalam balutan kebaya pernikahan nantinya ya?

Sabtu, 28 Januari 2012

Tidak Sempat atau Tidak Menyempatkan Diri

"tidak sempat atau tidak menyempatkan diri tante?" tanya Ayu padaku.

Aku menarik nafas lebih dalam setelah mendengar kata-katanya, ini pertanyaan atau tuduhan... tapi melihatnya memangku tumpukan buku yang masih terbungkus rapi, aku tak bisa berkelit, jawabannya jelas sudah.

Aku memang tak menyempatkan diri untuk membaca buku-buku yang telah ku beli. Dibilang sibuk? tidak juga, toh aku hanya mengurusi hajatku sendiri bukan presiden yang mengurusi hajat hidup orang banyak dan diantara waktuku aku masih sempat untuk mencari buku-buku itu lalu... kata-kata selanjutnya hanya akan menjadi alasan pembenaran jadi aku akan berhenti  disini dan mengakui aku memang tak menyempatkan diri.


Kamis, 26 Januari 2012

Tanya Tanpa Jawab

Tidak semua pertanyaan bisa ku jawab dan ada banyak alasannya salah satunya adalah aku tak ingin menjawabnya dan jangan tanyakan mengapa aku tak ingin menjawabnya.

Kuharap aku dimengerti.

Rabu, 25 Januari 2012

Safety First

Ini yang selalu dipesankan Mama saat aku akan berangkat kemanapun dengan motorku "Jangan ngebut dijalan, ingat keselamatanmu" dan kini aku akan menambahkan pesan itu dan mengingatkan diriku sendiri agar selalu mengutamakan keselamatan dimana saja dan kapan saja dan ini tidak hanya soal berkendaraan.

"ingat fie keselamatan terlebih dahulu untuk apapun yang kamu lakukan karena bukan hanya kamu saja yang akan menanggung resiko atas kelalaianmu tapi orang lain juga"




Rabu, 18 Januari 2012

Kamu Istimewa

Dengarkan aku, kamu itu istimewa, unik dan gak ada duanya di dunia ini. Secanggih apapun ilmu pengetahuan tak akan bisa membuat sesuatu persis sama dengan mu, mirip mungkin, tapi mataku tak akan tertipu. Ada yang bilang dan kamu harus percaya ini "jika kamu berusaha menjadi orang lain, lalu buat apa kamu di lahirkan kedunia?"

Jadi jangan jadi bayangan. Jangan sembunyi. Kamu ada dan nyata. Kamu unik dan istimewa. Tak ternilai apapun. Tak tergantikan apapun. Kamu harus jadi diri kamu sendiri. Oke.

Salam sayang selalu untukmu yang istimewa.
 p.s: teruslah berusaha memperbaiki diri setiap waktu, kamu sudah istimewa dan akan lebih istimewa dengannya.

Senin, 16 Januari 2012

No Resolusi

Tak ada target apapun tahun ini karena aku tau seperti tahun - tahun sebelumnya aku hanya akan semangat diawal lalu kemudian tiba-tiba menjadi amnesia dengan semuanya diakhir. Yah ini karena aku kurang keras terhadap diriku sendiri, tidak disiplin, mudah menyerah dan sebagainya.

Tapi mungkin ini juga karena beberapa waktu ini aku hanya ingin berjalan kebelakang, entah mengapa, pikiranku tak bisa menalarnya dengan baik hanya perasaan ku saja yang mengatakan bahwa ada sesuatu disana yang harus ku temukan. Mungkin sebuah pembelajaran atau sebuah kepingan untuk melengkapi teka teki yang ada saat ini. yang pasti inilah yang terbaik untuk saat ini.

Minggu, 15 Januari 2012

Dia selalu mendengar dan selalu mengerti.

Sudah berlebihan rasanya bagiku untuk meminta selalu didengar dan dimengerti tanpa sedikitpun mendengar dan mengerti. Aku sudah terlalu tua untuk merengek mengenai kehidupan, bersandar pada ke-Maha-an dan melebihi batasku sebagai hamba.


hamba ingin memperbaiki diri ya Allah, untuk memahami tentang hal hal yang hamba suka tapi Engkau membencinya. hamba mohon ya Allah, beri hamba sedikit waktu lagi untuk belajar mendengar dan mengertiMu. ingatkanlah hamba agar tidak melebih batas. amin.

Jumat, 23 Desember 2011

Kata Bijak Hari Ini

Diantara tumpukan email pekerjaan.


Makasih Akbar buat emailnya ^-^.

Jumat, 09 Desember 2011

Mana yang lebih baik?

Kami bertiga disini. Aku mengambil tempat disudut kamar, mencoba menyamankan diriku dengan keheningan ini. Dia sedang duduk di tempat tidur memeluk kakinya dan menenggelamkan wajah diantaranya sedangkan Kamu menyandarkan tubuhmu pada sisi pintu kaca memandang jauh keluar sana.

"Bukankah ini lebih baik? meski Dia menyembunyikan apa yang terjadi, bertahan dalam diamnya dan tidak membaginya... setidaknya kita masih bisa melihatnya, menjaganya dalam diam, berada disisinya hingga semuanya selesai. Bukankah kekhawatiran akan berlipat ganda ketika Dia memilih untuk menghilangkan dari pandangan kita? Pertanyaan apakah dia baik-baik saja? dan harapan cemas bahwa Dia tidak akan melalukan hal gila dengan menyakiti dirinya sendiri, tidak akan pernah ada selama Dia disini meski dalam diam. ya kan?"

Suara Kamu mengisi keheningan ini, tubuhmu masih dalam posisi yang sama dan tetap memandang jauh keluar sana tak sedikitpun berpaling meski akhir katamu adalah sebuah pertanyaan yang tidak hanya butuh pembenaran.

"Entahlah dengan apa yang kamu maksudkan lebih baik, Kamu tanyakan saja pada Dia yang diam. Buat Aku, aku lebih memilih tak melihat wajah diam itu. Tidak tahu apa yang terjadi, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lebih baik tidak tahu sama sekali, ya kan?"

 Aku mengikuti Kamu mengisi keheningan ini, dengan pertanyaan yang tidak hanya butuh pembenaran.

Jumat, 02 Desember 2011

-10 Hari, Kawah Putih dan Situ Patengan

Hampir sepuluh hari meninggalkan rumah bergerak dari satu kota ke kota lainnya dengan cuaca yang tak bersahabat. Merasakan gerakan pesawat yang tak stabil karena awan hitam yang membuatku berkali kali menahan nafas dan berdoa untuk keselamatan dan umur panjang serta berjanji untuk menggunakan waktu yang kupunya dengan lebih baik lagi, janji yang kini hampir kulupakan.

Tapi itu hanya sisi lain dari keseluruhan cerita, selain kerja sisi yang satu ini diusahakan untuk selalu ada apalagi  kalau bukan jalan-jalan (kerja+jalan2=travelwork). Kali ini berkesempatan melihat Kawah Putih dan Situ Patengan serta jalan - jalan kembali melihat kota Bandung dan Bogor, sangat menyenangkan terlebih ketika bisa menghabiskan waktu dengan Opie dan Inem.

Gak di Bandung, Gak di Surabaya, tetap kemana-mana naik Motor ^-^

 Kawah Putih, Bandung


Situ Patengan, Situ yang mengisahkan pasangan yang saling mencari dan di pertemukan kembali. 
Di tengah situ ini ada Batu Cinta yang konon katanya jika ada pasangan yang singgah disini dan mengelilingi pulau kecil di tengah situ maka cintanya akan abadi. 


Untuk ke Tengah Situ, kamu bisa menyewa perahu berkisar Rp.20.000,- / orang atau kalau mau mengayuh sepeda air sendiri disini juga disewakan berkisar Rp.30.000,-/sepeda air.
 
Kedua tempat ini sebenarnya tidak sulit dijangkau, hanya saja fie gak melihat adanya kendaraan umum disana jadi kalau mau ke dua tempat ini sewa kendaraan atau bawa kendaraan sendiri yah. ^-^

Selain itu fie punya foto lainnya di kota berbeda, bogor, bersama opie kerja, makan dan main di tempat yang sama. ^-^ Satu yang disayangkan foto seseorang yang sedang belajar sepeda tidak tercopy dilattop jadi kurang satu cerita lagi dalam perjalanan kurang dari 10 hari ini. ^-^
nb : buat yang belajar sepeda keep trying yah ^-^