Minggu, 20 Maret 2011

Bintang

aku pernah memanah satu bintang jauh di atas sana, ingin membuatnya jatuh terhempas ketanah dan menjadikannya keping yang tak lagi berbentuk. Betapa melelahkannya itu ketika kau menyadari itu tak akan pernah mungkin terjadi. Aku seperti orang gila yang menyeret tubuhnya sendiri ke batas kesadaran yang tak lagi peduli apapun kecuali bintang itu. Dan pada akhirnya aku hanya merasakan sebuah kehampaan, menemukan lorong-lorong kosong dihatiku dan sudut-sudut gelap dipikiranku.


“Apa ini?” Terus bertanya pada diriku sendiri hingga tangis menjadi hujan malam itu. Ketika ketakutan perlahan meyelimutiku, aku berlari menjauh tanpa arah, kemana saja asal jangan disini. Terus berlari dalam dingin menjauh dari cahaya. Kebingungan dalam langkah hingga akhirnya tersungkur ketanah. Aku kembali menangis, terisak, tanganku mecoba meraih apapun tapi tak kudapatkan selain diriku sendiri dalam tangis dikegelapan.

Lama sebelum kudengar suara selain tangisku. Aku menemukan mu, duduk melihat ke atas, melihat ke bintang, bintang yang ingin ku panah.

“sinarnya paling terang diantara semua bintang. Itu bintangmu?”

Aku mengambil duduk di sebelahmu, masih terisak, tak menjawab hanya tertunduk.

“tak akan ada yang mampu membuatnya seterang itu selain dirimu, buatku saat ini kau hanya khawatir akan waktu, sudah terlalu lama hingga terasa begitu sangat melelahkan. Dimana akhirnya mungkin itu yang terus kau tanyakan, untuk itu aku hanya bisa katakan ‘kita tak akan pernah mampu menguasai waktu’ jadi ikut saja dengannya dan tentang masa depan tak ada yang bisa kujanjikan. Kau tau ketika kau meletakannya setinggi itu, seluruh alam mengamini. Memang tak mudah mewujudkannya tapi bukan mimpi namanya jika mudah diraih."

Diantara semua hal yang kau ucapkan malam itu hanya kalimat ini yang selalu  kuingat "bukan mimpi namanya jika mudah diraih"

0 komentar:

Posting Komentar