Minggu, 31 Oktober 2010

lalu tapi bukan untuk yang lalu

Berapa banyak dari kita yang ingin merubah masa lalu? Pernahkah kita berkata seperti ini “jika waktu bisa kembali berulang, aku ingin merubahnya”

Buatku hidup hari ini memang bersumber dari hari yang lalu tapi hidup hari ini bukan untuk hari yang lalu tapi untuk hari esok. Menyesal dengan meratapinya bukanlah hal yang baik, jika kita terus merantai diri kita di masa lalu itu hanya menunjukan bahwa kita tak mampu untuk mengahadapi konsekuensi dari sebuah pilihan dan bisa dibilang tak mampu untuk hidup karena hidup adalah pilihan, apakah itu pilihan kita atau pilihan orang lain yang berdampak pada diri kita, sama saja artinya.

Boleh berharap hal-hal baik saja dalam hidup tapi harus kita akui, itu adalah hal yang hampir tidak akan pernah terjadi, adalah hal yang wajar, asal kemampuan kita mencicipi rasa manis ada ketika kita mampu mencicipi rasa pahit, kita tau hal baik ketika kita tau hal buruk.

Boleh saja menyesal, boleh saja bersedih tapi jangan itu saja, lakukan sesuatu, belajar darinya adalah yang terbaik. Belajar memaafkan diri sendiri dengan mengakui kesalahan, belajar memaafkan orang lain dengan menerima kesalahan, memperbaiki yang bisa diperbaiki jika tidak bisa diperbaiki belajarlah untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, berhati-hatilah untuk tidak terjadi hal yang sama.

Aku tak ingin kehidupan lain dan tak ingin merubah apapun karena aku merasa siap dan dipersiapkan dengan kehidupanku saat ini.

Jumat, 29 Oktober 2010

baiklah

baiklah, jangan ada lagi kata
akan ku lahap apapun yang kau sajikan
tanpa bertanya
seperti inginmu akan ku lakukan
tapi setelahnya jangan tanyakan padaku bagaimana rasanya

Rabu, 27 Oktober 2010

Pray for Indonesia, dariku

inilah aku manusiamu Allah
hatiku bersujud
tiada angkuh yang dapat kubanggakan
alammu telah menunjukannya
raga sehat, harta, kepandaian tak akan mampu menghentikannya

apakah ini hukumanMu?
dapatkah aku berpikir seperti itu, jika setelah lava itu mendingin akan kulihat tanah yang lebih subur dari sebelumnya
apakah ini bagian dari caraMu untuk mengingatkanku?
dengan ribuan nyawa yang Kau ambil dalam satu waktu
dengan ribuan harta yang Kau musnahkan dalam satu jangka

aku tak kan mampu berpikir kesana, itu rahasiaMu tentang alamMu tak mungkin bagiku untuk berprasangka tidak baik padaMu
tapi..
kusadari, Kau menyisipkan satu kalimat dihatiku
"tidak ada bagian dari silsilahmu disana, darah yang sama denganmu juga tak mengalir disana tapi mereka tetap saudaramu, meski raga tak pernah mengenal"
untuk itu
berikanlah pada mereka Allah, ketabahan untuk bertahan
cukupkanlah hidup mereka
berikanlah pada mereka yang telah berpulang ke rumahMu, tempat yang paling indah disisimu
berikanlah padaku kemudahan untuk membantu saudaraku.

Amin.

Pray for Indonesia, Status Mereka










 

Selasa, 26 Oktober 2010

Indahnya, Rafting di Songa

seneng.... di tengah jadwal yang bikin sesak nafas akhirnya bisa juga disisipkan satu hari untuk jalan-jalan dengan big family, Rafting di Songa ^-^. Songa terletak di probolinggo, perjalanan ditempuh sekitar 2 1/2 jam dari surabaya. berangkat jam 6 pagi (harusnya) dari kantor jadi molor jadi jam 7 sukses membuatku mayun, tapi ini tak akan merusak hariku saatnya senang-senang ya saatnya senang-senang hehehe....
sourceinfo 3 mobil beriringan menuju Sungai Pekalen, Songa, yang terletak 25 km dari kota Probolinggo tepatnya terbentang di antara tiga kecamatan berturut-turut yaitu kecamatan Tiris, kecamatan Maron, dan kecamatan Gading. Bantaran sungai yang bisa diarungi berjarak 29 km yang terbagi atas 3 area.  Karakteristik sungai berbelok dan bertebing, Panorama alam yang indah, puluhan jeram (grade 2 s/d 3+) yang exotic dan menantang, kemegahan air terjun, dan kemolekan gua-gua kelelawar, serta masih ditemuinya beberapa satwa langka seperti burung elang, burung kepodang, monyet, biawak, linsang, tupai dll menjadi daya tarik tersendiri yang dapat Anda nikmati selama perjalanan. Iklannya sih seperti itu tapi benar atau tidaknya lihat ajah nanti, sekarang kita menunggu lagi,  ada satu mobil yang gak punya navigator jadi yah beginilah ketika kehilangan jejak maka harus ditunggu.
perjalanan yang membuat otak ku kembali segar, sepanjang jalan terlihat alam yang begitu asri, sawah, gunung yang jauh disana, hutan yang terlihat bukan gedung-gedung angkuh dan dingin, membuat perjalan yang seharusnya sudah sampai dari tadi karena kegiatan saling tunggu menuggu gak terasa. jam 1/2 11 menginjakkan kaki di camp songa. disambut dengan welcome drink dan pilihan paket rafting. Songa membagi paketnya menjadi 3 bagian ; Sungai Pekalen Atas berjarak 12 km, Sungai Pekalen Tengah berjarak 7 km, dan Sungai Pekalen Bawah berjarak 10 km. kami memilih Sungai Pekalen Atas konsekuensinya setiap orang harus merogoh kocek sebesar Rp.185.000,- berhubung ada yang kenal jadi dapet diskon hehehe tapi harga aslinya cekdisini.
perlengkapan dipakai lengkap, safety first harus selalu di tegakan, kini kami siap,sebelum pergi  meyusuri alam pose dulu ^-^. naik pick up dan berjalan cukup jauh untuk mencapai sungai tetap membuat ku bersemangat melihat alam sungai pekalen, mereka bilang bagus, aku masih penasaran apakah sebagus itu. 

Rasa penasaran ku terjawab aku tak menyangka iklan tadi ternyata bukan hanya sekedar iklan, benar-benar menakjubkan. picfromhere lihatlah betapa indahnya ukiran air dibebatuan ini, tak akan ada tangan manusia manapun yang bisa menandinginya. sepertinya air mengerti, dia mengukir batu serupa rumah hingga kelelawar dan hewan-hewan lainnya bisa berteduh atau mungkin air ingin teman jadi dia membuat relung-relung di bebatuan untuk mereka apapun itu aku selalu merasa kecil jika berada di tengah kemegahan alam. pantone tak akan mampu membukukan warnanya hanya mataku yang mampu menangkap detail keindahan dari warna alam. foto tak akan mampu menangkap perasaan kagum yang memuai di hatiku. 12 km terasa pendek, 2 1/2 jam tidak ada artinya. aku ingin lebih lama menikmati alam. menikmati keindahan Tuhan.

Senin, 25 Oktober 2010

Happy Anniversary My Blog

Tidak terasa 1 tahun 1 hari dengan 160 catatan dari otak yang sedang drop wuehhh benar-benar rekor (rekor drop otaknya bukan catatannya ^-^), dimulai dengan keluhan sama langit 25 Oktober 2009 sampai sekarang 25 Oktober 2010 isinya setelah dibaca-baca lagi tetap keluhan gak berubah-berubah... hahaha... benar-benar mengenaskan. Kalo kata tetangga1 dan tetangga2 yang sedang mengulas image dengan media social nih bisa di kategorikan catatanmaya satu ini jauh dari kata informatif, edukatif apalagi inspiratif aaahhh...  jauh banget mau bagaimana lagi daripada kram otak atau keracunan otak sendiri lebih baik melampiaskannya disini tapi tetap berdoa siapapun yang lagi tersesat disini gak bertambah sesat sesudah membaca tulisan-tulisan yang menyesatkan hehehe....

dimulai dengan langitfie kemudian menjadi langkahfie, tahun lalu hingga hari ini, tulisan pertama hingga 160 dan mungkin akan terus berlanjut kalau melihat system kerja otak yang lebih sering drop, Sofie hanya ingin mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang tersesat disini, membaca dan menyapa, yang terlihat spionase-phi , petAldAchie dan yang tak terlihat.

Happy day for you. Always.

Kamis, 21 Oktober 2010

musim yang berbeda

kakiku mungkin menapaki musim yang berbeda denganmu, jangan kau khawatirkan itu, jangan kau paksakan dirimu untuk berjalan dijalan yang sama denganku, biarlah beriringan seperti kemarau dan hujan, jika kau paksakan, jika ku paksakan maka kita akan jatuh sakit.
jangan bilang aku egois sayang, aku sangat mengerti kekhawatiranmu akan waktu, kegelisahanmu akan jarak, ketidakberdayaan mu akan rindu karena untuk kau ketahui aku juga merasakannya, tapi itu bukan pembenaran buat kita untuk memaksakan keadaan ini, ada waktunya untuk tanganku menggenggam tanganmu untuk menikmati musim yang berganti, percayalah.

Rabu, 20 Oktober 2010

trial and error, menjadi luar biasa

Aku pernah bertanya kepada seorang psikolog saat mengikuti kelas pengembangan diri.
“Ibu, sebelumnya saya ingin tahu apakah Ibu bersependapat dengan saya bahwa manusia itu terlahir dengan kemampuan yang luar biasa?”
Psikolog itu mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
“lalu bagaimana kita bisa tau bahwa kita sudah benar-benar menggunakan kemampuan luar biasa itu, bahwa kita sudah benar-benar luar biasa?”
Psikolog itu tersenyum lalu menjawabnya “ketika kamu mulai mencoba, ketika kamu mencoba, mencoba dan mencoba lagi, dan ketika kamu berhenti mencoba”
Kali ini aku yang mengangguk tersenyum, aku lupa jika hidup ini adalah Trial and Error, hanya dengan mencoba kamu akan mengerti apakah hasilnya seperti yang kamu harapkan atau tidak seperti yang kamu harapkan, error, bukan kegagalan karena kegagalan bagiku adalah ketika kamu tidak pernah mencoba, tapi jika kamu sudah mencoba dan tidak seperti yang diharapkan maka itu hanya error.

Lalu berapa banyak error yang harus terjadi hingga kamu mengerti bahwa kamu harus berhenti mencoba. Tak ada ukuran pasti itu yang aku tau. Ada yang mencoba 1000 kali dengan hasil error tapi tidak membuat dia berhenti mencoba untuk ke 1001 kalinya, ada yang mencoba 1 kali dengan hasil error tapi dia sudah sampai pada kesimpulan bahwa itu bukan untuknya dan tak pernah mencobanya lagi. Tapi bagaimanapun juga memulai untuk mencoba adalah hal yang luar biasa walaupun itu hanya sekali karena mencoba memulai itu adalah hal yang sulit.

Selasa, 19 Oktober 2010

Pernakah Tuhan merindukanku?

Pernakah Tuhan merindukan kita bukan kerinduan kepada Hamba yang selalu menyebutNya tapi kerinduan kepada sosok ciptaanNya?

Pertanyaan yang tak seharusnya ini tiba-tiba muncul dibenakku ketika seseorang mengatakan "Tuhan tidak membutuhkan kita, kita yang membutuhkan Tuhan".

lalu
"adakah arti aku dimata Tuhan?" 
jika pendapat itu salah, jika ada, jika ternyata Tuhan membutuhkanku
"pernakah Tuhan merindukan ku? bukan rindu sembahku tapi rindu aku?"

seorang sahabat menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain "adakah seorang ibu meminta bayaran atas asi yang dia beri untuk anaknya?"

pertanyaannya memunculkan pertanyaan lain dibenakku hingga membuatku sedikit memahami,

adakah sembahku karena takut akan nerakanya? adakah sujudku karena kemahaannya?
Sembahku, sujudku bukan karena kemahaannya atau ketakutanku akan nerakanya tapi karena Ia, karena rinduku padaNya.
Jika aku yang hanya ciptaan saja merindu, apalagi Ia yang menciptakanku.

Minggu, 17 Oktober 2010

ketika dunia membisu

sms semalam

“ketika dunia membisu diantara serpihan waktu. Tutur katamu menyemarakan hati dan menyatukan waktu, bolehkah aku merindukanmu sof?”

Aku membaca sms dari seorang sahabat jauh di medan sana, hatinya pasti sedang tidak baik jika dia berkata seperti ini.

“Rindu selalu terasa tak berujung tapi disitulah letak keindahannya” balasku

“tidak banyak orang kurindukan karena hadirnya menentramkan hati”

Kata pujiannya bukanlah hal yang membuatku bangga tapi membuatku sedih karena pasti dia lagi sendiri dengan semua masalahnya

“ada apa sayang?” tanyaku

“sedih rasanya menyadari bahwa orang yang mengerti aku justru bukan keluarga yang kusayang tapi justru orang yang jaraknya jauh beribu kilometer dari sini, salahkah aku?”
Aku kehilangan kata. Pengertian hanya akan datang saat kita jujur dengan apa yang kita rasakan kepada orang lain tapi berapa banyak dari kita yang bisa berbicara bebas mengenai apa saja dengan orang tua kita, dengan kakak atau dengan adik. Berapa banyak dari kita yang mampu mengatakan ‘Ayah apa yang kau lakukan tidak baik, dan menyakiti keluargamu’ atau ‘kakak aku tidak suka dengan apa yang kaulakukan’ atau mungkin ‘ibu inilah aku, anakmu’ tanpa ada pertengkaran, tanpa ada amarah. Jika kalian termasuk salah satunya, beruntunglah kalian karena banyak orang yang tak bisa berbicara jujur tentang perasaan mereka kepada keluarga mereka sendiri, sesuatu yang menyakiti hati mereka atau hatimu akan diabaikan begitu saja saat menghadapi orang yang kita sayang yaitu keluarga yang pada akhirnya membuat kita selalu merasa sendiri dengan seluruh perasaan tidak menyenangkan ini.

Sabtu, 16 Oktober 2010

dikenal sebagai anak keras kepala?

Malam bersama Black
“jadi dikenal sebagai anak keras kepala?”

Aku mengangguk, kami memang telah lama saling mengenal, jalan pikiran kami mirip, sudut pandang kami tidak jauh beda itulah mengapa black tidak mengangap aku orang yang keras kepala.

“Ya, aku dikenal sebagai anak keras kepala di rumah, sulit merubah sikap dan tak kenal pendapat lain kecuali pendapat diri sendiri. Kakak dan Mama sudah sangat tau itu jika aku sudah diam dan tak bereaksi banyak, mereka akan membiarkan saja dengan kata lain ‘kamu udah gede bisa mikir sendiri’ ”

Black mengangguk tersenyum

“kamukan gak beda jauh sama aku black” ucapku

Dia tertawa “yup kita sama. Anehnya mengapa kita merasa kita adalah manusia yang paling bisa diajak bicara”

Hahaha… kali ini aku yang tertawa “ya, sebenarnya jika kita diajak bicara mengenai apa yang kita lakukan, kita akan bicara, tapi jangan pernah menghakimi kita dari awal bahwa apa yang telah kita lakukan adalah salah atau bodoh, kita lebih suka bicara mengenai mengapa, alasan sebenarnya dari apa yang kita lakukan. Yang kita inginkan adalah coba mengerti aku dengan pikiranku jangan mendeskriditkannya, jangan dikomparasi dengan pandangan umum atau standar pikiran mereka, ajaklah aku melihat sudut pandang lain jangan bikin pikiranmu jadi pikiranku, coba banyangkan jika mereka tidak ada kita bisa seperti anak ayam yang kehilangan induknya jika kita terus mengcopy pikiran mereka, tak bisa berpikir sendiri, manusia tanpa otak”

“dari kecil aku sudah bertanya sesuatu yang tak wajar seperti mengapa apa itu disebut apa, mengapa siapa itu terdiri dari huruf s-i-a-p-a dan bagaimana kita bisa mengerti ucapan satu sama lain, orang tuaku hanya diam” black tersenyum menggeleng lalu melanjutkan ucapannya “pernah suatu hari aku berdebat dengan seorang guru, dia menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan ideologi dengan sangat yakin dia berkata bahwa ideologi a salah, ideologi b salah dan ideologi c yang paling benar, kukatakan padanya bapak adalah seorang guru yang memperkenalkan banyak hal pada kami bukan mendoktrin pikiran kami bukan mencetak pikiran kami, biarkan kami bebas menilai karena itu yang akan membuat kami berpikir, setelah pelajaran itu aku dipanggil, guru itu bertanya siapa orang tuaku keesokan harinya ibuku bilang gak usah tanya yang macem-macem udah belajar aja yang bener. Semenjak itu aku jadi merasa aku aneh mengapa aku tak berpikir seperti orang lain berpikir”

“aku juga terkadang merasa terasing dari dunia jika sudah seperti itu aku jadi merasa aku punya dua kepribadian karena aku akan berbincang-bincang dengan diriku sendiri mengenai apa dan mengapa” ucapku

“akan lebih enak jika kita bisa berpikir seperti dunia berpikir” nada suara black semakin merendah

“jika seperti itu, hidup tak ada bedanya dengan kamus, mengamini tanpa mengerti apa yang telah tertulis”

“benci sekali dengan kalimat ‘kata orang seperti itu ya udah’”

“atau itu dosa, ntar masuk neraka trus waktu ditanya kenapa dosa?, kenapa masuk neraka? Mereka bilang ya gitu pokoknya” kataku melanjutkan

Kami tertawa “gak bertanggung jawab banget”

“yah buatku segala sesuatu pasti ada alasan logisnya, mengapa kita disini, mengapa kita berbeda, mengapa kita diberi kehidupan”

yah kita harus berpikir mengapa kita hidup jangan hanya menjalakannya saja untuk berakhir di kematian.

Jumat, 15 Oktober 2010

aku berpikir tentang bunuh diri black

Malam bersama Black


“aku berpikir tentang bunuh diri black” ucapku. Beginilah kami jika sudah bertemu, menunggu pagi dengan berbincang tentang apa saja, tak perlu takut merasa abnormal dengan pikiran yang tidak umum, buram itu yang selalu kami gambarkan tentang pikiran kami.

“kau ingin melakukannya?” tanyanya

Aku menggeleng tertawa “tidak, kau sangat tau itu bukan pilihan yang yang dapat dipilih”

“lalu?”

“jika hidup dan mati adalah atas seijin Allah lalu mengapa hal yang paling dibenci Allah yaitu bunuh diri dapat terjadi?”

“jika itu bagian dari takdir, sesuatu yang telah tertulis mengapa itu menjadi hal yang dibenci? Jika dibenci lalu mengapa diijinkan? Lalu bagaimana ada orang yang selamat dari proses bunuh diri ini mengapa ada yang tidak? Ada yang kehilangan tangan karena kecelakaan tapi tidak mati ada yang hanya menyayat nadi bisa mati. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“jika semua atas kematian adalah atas seijinnya, lalu dimana titik Dia mengijinkan atau tidak mengijinkan itu terjadi?” tanyaku

Balck diam, tangannya mengambil sebatang rokok dan menghisapnya dalam.

Aku melanjutkan kata-kataku “aku pernah dengar sebuah cerita orang yang selamat dari kecelakaan. Ada satu titik dimana dia mengingat masa-masa yang telah ia lalui dan satu titik dimana dia hanya bisa mengucap Allah titik dimana dia menjadi sadar ternyata dia lemah tak sekuat yang dia bayangkan dan Allah adalah harapan terakhirnya, dia memohon untuk hidup dan dia mendapatkannya”

“lalu?”

“aku coba membayangkan, ketika kita sayat nadi kita atau gantung leher kita, ketika kesadaran mulai menurun, adakah titik itu? Titik dimana kita mengingat semua yang telah kita lalui dan titik dimana kita mengingat Tuhan?”

“kurasa iya”

“lalu dimana titik Tuhan mengijinkan bunuh diri itu mengakibatkan kematian atau tetap membuatmu hidup?”

Black diam dan aku juga tapi ada hal yang tiba-tiba terlintas di kepalaku

“titik itu mungkin, titik dimana kita mengingat Tuhan dan memohon untuk tetap hidup atau tetap memohon kematian”

aku, tanpa kopi, tetap dengan sekotak cerita


Aku, banana  split, summer fresh dan Black (Kamu), tak ada kopi disini  meski kita lagi ada di warung kopi tapi tetap ada sekotak cerita buram kita.

Kau tersenyum ketika aku menarik nafas melihat pesananku yang tidak sesuai. aku hanya suka banana split dengan ice cream cokelat saja bukan vanila atau strawberry tapi yang datang masih dengan satu scoop ice cream vanila meski yang dua scoop lainnya cokelat

"gak biasanya gak protes?"

"capek protes terus, sepertinya yang salah adalah otakku, kenapa sih aku gak berpikir seperti kebanyakan orang berpikir, akan lebih baik rasanya, dari pada merasa abnormal seperti ini" keluhku

orang lain mungkin merasa aneh dengan jawabanku yang tidak menjawab tapi tidak dengan Black, dia sudah sangat hafal dengan keburaman kataku yang berasal dari keburaman pikiranku.

"berpikir seperti pikiran banyak orang membuatku ingin jadi atheis?" ucapnya

aku tau mengapa dia berkata seperti itu, cintanya kandas karena agama, dan seperti dia, aku sangat hafal dengan keburaman katanya yang juga berasal dari keburaman pikirannya  "maksudmu mungkin tak beragama karena orang sepertimu tak mungkin tak berTuhan" Dia orang yang sangat mengamini Injil tak pernah jauh dari buku dan lagu rohani bagiku tak mungkin dia tak berTuhan,


aku melanjutkan kata-kataku "kamu tau? kemarin aku minta ijin untuk pergi dariNya, aku malu terus menyakitiNya, banyak dosa yang telah kuperbuat, aku tak mau jadi seperti mereka yang datang meminta ampunan lalu besok berbuat dosa lagi, memanfaatkan kemahaan, berlaku seperti orang yang tak mencinta, tapi setiap kali aku berpikir seperti itu hatiku bertanya 'mampukah kamu tak berTuhan?' dan aku menemukan kenyataan bahwa aku tak mampu kalau aku tak berTuhan. hal yang paling nyata dihidupku adalah Allah. kamu bisa hilang, orang-orang yang kita cinta, bumi, bintang bisa hilang, raga bisa mati tapi Allah akan tetap ada. Dialah hal yang paling nyata diantara yang nyata"

"aku berpikir di titik dimana semua ini berawal, sebelum big bang terjadi, titik dimana otakku tak lagi bisa berpikir yang kutemukan adalah kehampaan, ketika kau bilang nyata kenapa ku rasa Tuhan identik sekali dengan kehampaan"


kami tertawa, inilah keburaman kami, terlalu banyak pertanyaan di otak kami, mereka jawaban adalah hal yang tidak bisa kami lakukan karena hidup bagi kami bisa di logikakan. 


"kita perlu orang ketiga untuk menetralisir pikiran kita, jika hanya berdua kita hanya akan semakin sesat"
kami kembali tertawa


"mengapa tak beragama black? buatku berTuhan tapi tak beragama adalah sesuatu yang aneh. Agama adalah penggambaran keberadaanNya, Dia sangat ingin dikenal mahklukNya bahwa Dia ada dan sangat dekat dan agama adalah jalannya"


"karena aku merasa ini hanya sebagai lembaga saja suatu yang mengkotakkan dan memisahkan"
"kamu tau pasti yang kita bicarakan lebih dari sekedar kertas black. aku tak bertanya sesuatu yang ditulis di KTP tapi keyakinanmu"


black diam, aku juga, pertanyaan terakhirku menguap bersama pikiran kami.

Rabu, 13 Oktober 2010

telepon pagi ini

Suara serakku mengucapkan salam setelah menekan tombol yes.  Sedikit berbincang mengenai keberadaan ku di Malang dan kapan tepatnya aku pulang dari perjalanan ini sebelum akhirnya berakhir pada kalimat yang tak kusuka

"dia udah pergi" ucap suara di seberang sana

aku menarik nafas, memang tak lagi merasakan sakit tapi tak merasakan apa-apa lagi adalah hal aneh buatku, mungkin ini yang disebut dengan mati rasa.

"kita bicarakan nanti yah waktu aku pulang" jawabku untuk mengakhiri percakapan ini, jawaban iya dan nada telepon yang tak lagi tersambung menyisakan aku sendiri dikamar asing ini.

aku tak akan menahanmu, tapi untuk kau tau aku tak pernah berharap kau pergi.

Senin, 04 Oktober 2010

catatan untuk diri sendiri tentang perayaan keberagaman

Senyumku melebar saat membaca dua kata ini “merayakan keberagaman”, tergelitik untuk mengomentari “bukankah kita sudah sangat sering merayakan keberagaman, dengan aksi demo di jalanan, dengan aksi pukul di ruang sidang, dengan aksi bom bunuh diri, dengan aksi lempar batu atau saling menusukan senjata tajam, dengan aksi pengrusakan rumah ibadah dan aksi lainnya jadi kali ini perayaan yang seperti apa?”


Bayanganku tentang perayaan keberagaman ini adalah “aku punya blog kata, kamu punya blog nada, dia punya blog gambar, sedangkan dia yang lainnya punya blog informasi mulai dari kesehatan, makanan, tempat wisata yang menakjubkan dan sebagainya, berkumpul di satu tempat saling bertatap muka yang lebih dikenal dengan istilah kopdar dan ayo… kita rayakan keberagaman ini” hanya itu sajakah? Lalu apa? Ini bukan pandangan skeptisku tentang perayaan keberagaman tapi hanya sebuah catatan bagi diriku sendiri agar perayaan ini tidak hanya menjadi perhelatan sehari di hatiku.

Banyak yang ku tanyakan pada diriku sendiri mengenai keberagaman, apa makna darinya? dan hal-hal yang terkait dengannya seperti toleransi, cinta antar sesama mahkluk Tuhan (atau sesama manusia bagi yang atheis) serta sejauh apa aku mampu untuk merayakannya dengan kepositifan.

Pertanyaan awalku bukanlah mengapa ku harus merayakan keberagaman tapi mengapa ada keberagaman? Tuhan membuatku berpikir tentang apa yang kulihat, coba bayangkan fie jika tidak ada perbedaan pemikiran maka tak akan ada teknologi secanggih sekarang, kamu akan terus hidup nomaden dengan peralatan yang terbuat dari batu, kamu tak akan pergi jauh melintasi samudera karena manusia dulu menganggap bahwa bumi ini datar dan banyak hal lainnya. Perbedaan pemikiran saja telah memberikan begitu banyak hal positif apa lagi seribu perbedaan lainnya maka tak sepatutnya aku menjadikannya dalih sebagai pemisah antara aku dan mereka.

Perbedaan adalah sesuatu yang kubutuhkan bukan untuk mengetahui siapa yang lebih superior dari siapa atau apa yang lebih baik dari apa yang lainnya tapi karena kebutuhan. Aku butuh perbedaan itu untuk membuatku lengkap, contohnya: aku seorang plegmatis yang butuh seorang sanguinis untuk membuat denyut hidupku lebih cepat, aku butuh seorang koleris untuk belajar memimpin diri sendiri, aku butuh seorang melankolis untuk lebih bersimpati terhadap lingkungan, tanpa mereka aku hanyalah orang yang menghabiskan waktuku dalam diam, menghindari perubahan dan mati dalam kekeraskepalaan. Aku butuh mereka yang berbeda untuk melengkapiku. Tak ada hal yang tercipta dalam kesia-siaan.

Aku tahu bahwa aku butuh untuk berbeda tapi sejauh mana perbedaan itu aku butuhkan? Aku tidak akan munafik, ada titik dimana aku tidak akan menoleransi lagi perbedaan itu, ada titik dimana aku memilih untuk membenci daripada mencinta, ada titik dimana aku memutuskan untuk peduli atau tidak peduli pada perbedaan tapi titik-titik ini bukanlah tiket halal bagiku untuk menghina orang lain yang berbeda, mengintimidasi, melakukan tindak kekerasan, menghakimi, berbuat tidak adil, bahkan atas nama Tuhan-pun tidak akan pernah ada tiket halal bagiku untuk menyakiti secara fisik maupun psikis orang yang berbeda denganku sama halnya dengan tidak ada tiket halal bagiku untuk membalas penghinaan dengan penghinaan, kekerasan dengan kekerasan jika kubalas makian dengan makian lalu apa bedanya aku dengan orang-orang yang ku anggap pemasung perbedaan? Jika aku memiliki pilihan lebih baik maka aku akan memilih pilihan itu jika aku tak punya pilihan lebih baik maka aku akan membuatnya, membuat pilihan lebih baik dari pilihan yang ada.

Jadi beginilah aku merayakan keragaman dengan ‘memperlebar sudut pandang tapi tak kehilangan keyakinan’

Jumat, 01 Oktober 2010

Minipop Someone to Love